Engelina Pattiasina: Negara Seolah Lupakan Perlawanan Pelaut Zeven Provincien 1933

oleh -552 views
Direktur Archipelago Solidarity Foundation, Engelina Pattiasina, mengingatkan seluruh elemen masyarakat Maluku untuk mengawal pengelolaan hak Participating Interest (PI) 10 persen dari seluruh blok minyak dan gas bumi (migas) di Maluku agar tidak dikuasai oleh kelompok pemburu rente (rent seeker).

Porostimur.com, Jakarta – Negara dinilai melupakan salah satu peristiwa monumental yang pernah mengguncang pemerintahan Hindia Belanda, yakni perlawanan pelaut Indonesia di Kapal Zeven Provincien pada 1933. Peristiwa ini disebut sebagai pemantik berbagai gerakan perlawanan berikutnya di Indonesia, namun kini seolah terpinggirkan dari narasi sejarah nasional.

Hal tersebut disampaikan Direktur Archipelago Solidarity Foundation (ASF), Dipl.-Oek. Engelina Pattiasina, dalam percakapan dengan wartawan di Jakarta, Sabtu (7/2/2026).

Menurut Engelina, perlawanan pelaut yang dimotori awak kapal dari Ambon, Timor, dan Manado pada 4–10 Februari 1933 merupakan peristiwa penting dalam sejarah perlawanan terhadap kolonialisme Belanda.

“Peristiwa kapal Zeven Provincien ini menjadi pemantik perlawanan. Tapi sangat memprihatinkan karena keberanian tokoh-tokohnya dilupakan dalam catatan sejarah,” kata Engelina.

Tokoh Perlawanan Dinilai Terpinggirkan

Engelina menyebut sejumlah tokoh perlawanan seperti Martin Pa Radja dari Timor, J.K. Kawilarang dan W.M. Rumambi dari Manado, serta J. Parinussa, Tuhumena, dan J. Pelupessy dari Maluku tidak banyak dikenal generasi saat ini. Padahal, mereka terlibat langsung dalam aksi pengambilalihan kapal perang Belanda tersebut.