Tekanan deflasi yang lebih dalam di Provinsi Maluku ditahan oleh kenaikan harga ikan layang, daging ayam ras, ikan cakalang olahan, dan ikan kembung.
Naiknya harga ikan disebabkan oleh turunnya produktivitas nelayan tangkap akibat cuaca buruk akibat la nina yang terjadi di Maluku pada awal tahun 2021 dan masih dirasakan sampai dengan saat ini.
Selain itu, inflasi juga terjadi pada komoditas biaya saluran TV seiring dengan tingginya angka work from home dan juga pada komoditas obat dengan resep seiring dengan iklim pancaroba yang terjadi di Provinsi Maluku.
Pada awal tahun 2021, Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Maluku dan Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Provinsi Maluku fokus pada monitoring klaster hortikultura untuk memulai program pelatihan dan pengembangan petani pada musim tanam.
Selain itu, Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Maluku senantiasa melakukan koordinasi dengan Organisasi Perangkat Daerah (OPD) guna memastikan ketersediaan stok bahan pangan dan bahan kebutuhan pokok di wilayah Maluku.
Kantor Bank Indonesia Provinsi Maluku juga berkoordinasi secara aktif dengan Pemerintah Provinsi, Kota dan Kabupaten untuk memfasilitasi Kerjasama Antar Daerah (KAD) Provinsi Maluku dengan beberapa provinsi di Indonesia.





