Lipstick Effect: Terapi Ekonomi dan Gaya Hidup di Meja Coffee Shop

oleh -514 views

Oleh: Ady Amar, Kolumnis

Para pelaku usaha mulai mengeluh pelan-pelan: pengunjung ramai, transaksi turun.

Orang datang ke mal, tetapi hanya berputar-putar melihat etalase. Mereka masuk ke toko, mencoba barang, memotret, lalu pergi tanpa membeli apa pun. Coffee shop penuh selama berjam-jam, tetapi satu gelas kopi cukup menemani satu meja hingga malam larut. Banyak orang datang sekadar membeli “hak untuk duduk”, lalu bercakap panjang sambil menahan pengeluaran lain.

Kota tampak hidup, tetapi daya beli sedang menahan napas.

Fenomena ini sesungguhnya bukan sekadar perubahan gaya hidup, melainkan gejala psikologis dan ekonomi yang lebih dalam. Orang belum berhenti mengonsumsi, tetapi cara mereka mengonsumsi telah berubah. Mereka mengecilkan pengeluaran, menunda keputusan besar, dan mencari bentuk-bentuk hiburan yang paling murah untuk menjaga kewarasan.

Baca Juga  Tak Cukup Ashabiyah Hambalang

Di dunia ekonomi ada istilah lipstick effect: ketika ekonomi melambat dan masa depan terasa tidak pasti, masyarakat tetap membeli hal-hal kecil yang memberi rasa nyaman secara emosional. Istilah itu lahir dari kebiasaan masyarakat membeli barang-barang kecil seperti lipstik ketika krisis ekonomi datang. Mereka tidak lagi membeli tas mahal, kendaraan baru, atau barang mewah bernilai besar, tetapi masih ingin membeli sesuatu yang membuat mereka merasa “tetap hidup”.

No More Posts Available.

No more pages to load.