Oleh: Tony Rosyid, Pengamat Politik dan Pemerhati Bangsa
Pertumbuhan ekonomi ditentukan di antaranya oleh sehat tidaknya iklim investasi. Setidaknya ada tiga faktor untuk menilai iklim investasi: pertama, kepastian hukum. Kedua, perlindungan aset. Ketiga, tingkat korupsi. Kalau ketiga faktor ini bagus, maka negara itu sedang dalam keadaan sehat untuk investasi. Apalagi jika ada stimulus tambahan seperti kemudahan birokrasi, relaksasi pajak dan sejenisnya, dunia investasi akan semakin sehat dan menarik bagi para investor.
Bagaimana dengan iklim investasi di Indonesia saat ini? Kita bisa lihat dua hal. Pertama, nilai tukar rupiah. Kedua, IHSG. Rupiah hari ini melemah. Nilai tukar rupiah ke dolar hari ini tembus Rp. 18.166. Ini terburuk sepanjang sejarah pasca reformasi. Apa artinya? Banyak pemilik dolar tarik uangnya keluar dari Indonesia.
Bukankah neraca perdagangan kita surplus? Mengapa rupiah tetap melemah? Betul ! Neraca perdagangan tahun 2025 dan 2026 surplus. Impor kita tahun 2025 US $ 241,86 milyar, ekspor kita US $ 282,91. Ada surplus US $ 41,05 milyar. Di tahun 2026 (Januari-April) impor kita US $ 86,51 milyar dan nilai ekspor kita US $ 92,15 milyar. surplus US $5,64 milyar. Tapi, kenapa rupiah melemah? Diduga penyebabnya di antaranya karena uang hasil ekspor itu disimpan di luar negeri. Enggak balik ke Indonesia. Jadinya, minus.









