Firdaus dan Senyum yang Tertinggal di Maluku

oleh -395 views

Oleh: Khairuz Salampessy, Pegiat lingkungan

Kabar duka itu menyebar, Firdaus Ahmad Fauji tersesat di Gunung Binaiya. Gelombang kepedulian datang seperti arus sungai Yahe yang tak terbendung. Orang-orang mengulurkan tangan, hati, dan doa. Bahkan ketika Kepala Balai Taman Nasional Manusela angkat tangan, meminta keluarga untuk mengikhlaskan, para relawan tak menyerah. Mereka justru melangkah lebih jauh. Dengan segala keterbatasan, mereka bergerak, turun ke jalan, menggalang dana, menyusun harapan dan rencana.

Dan akhirnya, Firdaus ditemukan. Bukan dalam keadaan hidup, tapi tetap dalam kemenangan. Ia pulang. Ia kembali. Tidak lagi tersesat di rimba, tapi hadir di pelukan orang-orang yang mencintainya. Di tengah duka, ada bahagia yang tak terucap. Karena tubuhnya tidak hilang, tidak lenyap ditelan akar pohon, tapi bisa dikebumikan dengan doa.

Baca Juga  Gunung Dukono Kembali Erupsi, Kolom Abu Capai 1,4 Kilometer

Lalu datang pertanyaan, dengan nada sinis yang kadang menohok :
“Kenapa harus naik gunung?”
“Untuk apa?”
“Bukankah hanya merepotkan banyak orang?”
“Bikin susah. Harus keluar biaya. Menyusahkan negara.”

Mari kita diam sejenak, jauh dari prasangka. Mari kita lihat perjalanan ini dari mata yang lain, dari hati yang lebih terbuka. Firdaus adalah tamu. Ia datang dari jauh, dari tanah Jawa ke tanah Maluku. Ketika dia dan teman-temannya menjejakkan kaki di Bandara Pattimura, ada seorang sopir travel yang mendapat rezeki pertamanya hari itu. Di kota Ambon, tempat transit pertama, Firdaus dan teman-temannya mampir di warung makan kecil, dan seorang ibu tersenyum. Ada tamu dari luar yang datang membawa kehidupan.

No More Posts Available.

No more pages to load.