Fotografer Reuters Pemenang Pulitzer Prize Terbunuh dalam Serangan Taliban di Afghanistan

oleh -20 views
Link Banner

Porostimur.com | Kabul: Seorang fotografer pemenang Pulitzer Prize dari kantor berita Reuters tewas pada Jumat (17/7/2021) saat meliput pertempuran antara pasukan keamanan Afghanistan dan Taliban di dekat perbatasan Afghanistan-Pakistan.

Pasukan keamanan Afghanistan berjuang untuk merebut kembali Spin Boldak ketika Siddiqui Denmar dan seorang perwira senior tewas dalam baku tembak dengan Taliban.

Reuters melaporkan Siddiqui, seorang warga negara India, telah bergabung dengan pasukan khusus Afghanistan di bekas benteng Taliban di Kandahar pada pekan ini, seperti yang dilansir dari AFP pada Jumat (16/7/2021).

“Kami segera mencari lebih banyak informasi, bekerja dengan pihak berwenang di kawasan itu,” kata presiden Reuters Michael Friedenberg dan pemimpin redaksi Alessandra Galloni dalam sebuah pernyataan.

“Danish adalah jurnalis yang luar biasa, suami, dan ayah yang setia, serta kolega yang sangat dicintai. Pikiran kami bersama keluarganya pada saat yang mengerikan ini,” kata Friedenberg.

Baca Juga  Gini Ratio Maluku Turun Sebesar 0,320 Pada September 2019

Reuters mengatakan Siddiqui (38 tahun), sebelumnya dilaporkan terluka di lengan oleh pecahan peluru saat meliput pertempuran.

Dia sempat dirawat dan sudah pulih, ketika militan Taliban mundur dari pertempuran di Spin Boldak.

Namun, kemudian Reuters melaporkan bahwa seorang komandan Afghanistan yang tidak disebutkan namanya mengatakan kepada mereka bahwa Siddiqui sedang berbicara dengan penjaga toko ketika Taliban mengirimkan serangan lagi.

Presiden Afghanistan Ashraf Ghani menyatakan keterkejutannya atas kematian Siddiqui, dan mengatakan dia terbunuh saat meliput “kekejaman Taliban”.

Siddiqui adalah bagian dari tim untuk membagikan Penghargaan Pulitzer 2018 untuk Fotografi Fitur karena mendokumentasikan krisis pengungsi Rohingya.

Reuters mengatakan pria 38 tahun itu telah bekerja untuk mereka sejak 2010, meliput perang di Afghanistan dan Irak, krisis pengungsi Rohingya, protes Hong Kong serta gempa Nepal.

Baca Juga  Kalimat Perpisahan Joachim Loew Usai Jerman Tersingkir

Afghanistan telah lama menjadi salah satu negara paling berbahaya di dunia bagi jurnalis.

Pada Mei, pengawas media Reporters Without Borders (RSF) menempatkan Afghanistan di peringkat 122 dari 180 negara pada Indeks Kebebasan Pers Dunia terbaru.

Beberapa jurnalis, termasuk wanita, tewas dalam serangan yang telah ditargetkan, sejak Taliban dan Washington menandatangani kesepakatan pada Februari 2020 yang membuka jalan bagi penarikan pasukan asing.

Pembawa acara televisi terkemuka, reporter, dan pekerja lepas telah ditembak mati dalam lalu lintas jam sibuk di Kabul dan kota-kota lain di Afghanisstan, sementara puluhan lainnya terancam.

Para pejabat menyalahkan Taliban atas pembunuhan tersebut, meskipun beberapa pembunuhan telah diklaim oleh ISIS.

Baca Juga  Kapolda Maluku Bagikan Sembako & Takjil Kepada Imam dan Marbot Masjid dan Tahanan Rutan Polda Maluku

Sekitar 1.000 pekerja media Afghanistan telah meninggalkan pekerjaan mereka, sebuah komite keselamatan wartawan Afghanistan mengatakan hal ini pada Mei.

“Ancaman dan kekerasan terhadap jurnalis berdampak langsung pada media dan mempersulit pekerjaan mereka,” kata RSF.

(red/kompas.com)