Oleh: Moksen Sirfefa, Peminat Sejarah dan Peradaban.
DEMOKRASI adalah sistem politik yang secara teori menyimpan kebenaran dengan dirinya sendiri. Meski begitu, demokrasi terus dipraktekkan secara salah dan menghasilkan kesalahan namun dibanggakan. Disini “kita bangga” punya negara yang menganut sistem demokrasi. Kita adalah generasi terakhir pewaris sistem ini (Lihat, Francis Fukuyama, The End of History and The Last Man, 1992). Fukuyama menyebut demokrasi telah membuktikan keampuhannya menaungi sepertiga dari pemerintahan-pemerintahan yang tadinya korup menjadi demokratis. Ia mengutip Hegel soal sejarah sebagai pencarian manusia untuk menemukan satu sistem politik universal yang cocok ( man’s search for a single universally congenial political system) dan karena itu Fukuyama menafsir ulang definisi Hegelian tentang sejarah sebagai “the progress of man to higher levels of rationality and freedom” (pergerakan manusia menuju tingkat rasionalitas dan kebebasan yang lebih tinggi), yang mana titik tumpu logikanya ada pada pencapaian kesadaran pribadi yang mutlak. Selebihnya Fukuyama berpandangan bahwa pencarian manusia rupanya telah mendekati keberakhirannya. Itu berarti demokrasi adalah sesuatu yang final dari sistem politik, padahal demokrasi hanya sebuah proses bukan tujuan. Pandangan Fukuyama ini beda tipis dengan Marx yang menyatakan tahap sejarah akan mencapai puncaknya ketika terwujud suatu masyarakat komunis.









