Gaji 2,6 Milyar Per Tahun

oleh -357 views

Nasionalisme itu bisa sedemikian dangkal. Karena, entah mengapa, gaji yang dinikmati oleh seorang WNI ini membuat membuat orang-orang yang merasa diri juga WNI merasa turut bangga dan senang.

Namun ada yang hilang disini. Yang hilang itu adalah bagaimana orang yang menerima gaji itu, seperti yang dikatakannya sendiri, adalah bagian sangat kecil dari warga negeri ini, “the privilege.” Ini bukan cerita Cinderella, berawal dari kemiskinan dan ketidakadilan, kemudian menjadi istri pangeran.

Sebaliknya, ini adalah cerita Paris Hilton, Ivanka Trump, atau Jared Kushner. Good looking, smart, and rich yang menjadi pintar dan kaya karena orangtua yang pintar dan kaya raya.

Ini adalah cerita tentang hidup yang sudah selesai. Dan kita dipaksa untuk mengaguminya.

Saya pernah membaca artikel dari seorang pemikir. Dia bertanya, mengapa kita merasa kasihan dan bersedekah kepada pengemis? Jawabnya sederhana: karena kita melihat kemungkinan bahwa kita bisa berada dalam situasi seperti itu dan berharap bahwa ketika berada disana akan ada orang yang murah hati bersedekah untuk kita.

Baca Juga  Gubernur Maluku Jadi Responden Perdana Sensus Ekonomi 2026 di Ambon

Ketika membaca artikel ini, saya melihat kebalikan dari teori sedekah itu. Hampir seluruh pembaca tahu bahwa Rp 2,6 milyar itu adalah mimpi yang mustahil. Satu-satunya yang bisa dilakukan adalah kagum dan ikut senang.

No More Posts Available.

No more pages to load.