Porostimur.com, Jalur Gaza – Pembicaraan tentang masa depan Gaza — wilayah yang selama bertahun-tahun menjadi pusat konflik Israel dan Palestina — kembali memanas di awal 2026. Di panggung World Economic Forum di Davos, Swiss, pemerintahan Presiden Amerika Serikat Donald Trump meluncurkan inisiatif global bernama “Board of Peace” (Dewan Perdamaian) yang dirancang untuk mengatur berakhirnya konflik dan proses rekonstruksi di Gaza.
Pada peluncuran ini, Jared Kushner, mantan penasihat presiden sekaligus menantu Trump, memperkenalkan master plan untuk membangun kembali Gaza. Gambaran ini disebut sebagai transformasi besar yang mencakup wilayah hunian, kawasan industri, hingga area pesisir —visi yang mengingatkan banyak orang pada istilah “Gaza Riviera” yang sebelumnya pernah dikemukakan oleh Trump sendiri.
Namun, gagasan-gagasan ini jauh lebih dari sekadar rencana pembangunan — mereka mencerminkan interpretasi unik tentang geopolitik, ekonomi, serta kontroversi global tentang siapa yang berhak menentukan masa depan Gaza.
1. Konsep “Gaza Riviera” — Gagasan Trump untuk Gaza sebagai Pesisir Mewah
Konsep “Gaza Riviera” pertama kali muncul dalam wacana ketika Donald Trump secara retoris menggambarkan Gaza sebagai lokasi pesisir yang memiliki potensi ekonomi besar jika seluruh wilayah tersebut dibangun ulang dengan investasi besar dan struktur modern.









