Gencatan Senjata Rapuh di Tengah Bara: Catatan dari New York tentang Perang Iran

oleh -365 views

Namun, satu hal yang patut dicermati adalah ketahanan Iran yang kerap diremehkan. Dalam waktu singkat, negara tersebut mampu menunjukkan kapasitas tidak hanya dalam pertahanan militer, tetapi juga dalam strategi politik dan ekonomi. Bahkan, langkah strategis seperti ancaman penutupan Selat Hormuz—jalur vital perdagangan energi dunia—menjadi bukti bahwa Iran memiliki leverage yang tidak bisa diabaikan.

Puncaknya terjadi ketika Amerika Serikat, di bawah tekanan, menerima sepuluh poin yang diajukan Iran sebagai dasar gencatan senjata sementara. Poin-poin tersebut mencakup komitmen non-agresi, pengakuan hak Iran dalam pengayaan uranium, pencabutan sanksi, hingga jaminan kebebasan navigasi di Selat Hormuz. Ini menunjukkan bahwa dalam diplomasi, posisi tawar tidak selalu ditentukan oleh kekuatan militer semata.

Baca Juga  Marceau Haurissa Terpilih sebagai Direktur Poltek Negeri Ambon Periode 2026–2030

Namun demikian, saya melihat bahwa gencatan senjata ini sangat rapuh. Sejarah menunjukkan bahwa komitmen dalam konflik semacam ini sering kali tidak bertahan lama, terutama dengan keterlibatan aktor yang memiliki rekam jejak pelanggaran kesepakatan. Ada kekhawatiran bahwa stabilitas yang tercipta hanyalah jeda sementara sebelum eskalasi berikutnya.

Lebih dari itu, narasi yang dibangun untuk membenarkan perang—seperti isu nuklir atau demokratisasi—sering kali hanyalah pembungkus dari agenda yang lebih dalam, yakni dominasi geopolitik dan ekspansi pengaruh.

No More Posts Available.

No more pages to load.