Gereja Tangguh

oleh -267 views

Oleh: Asghar Saleh, Penulis dan Pemerhati Sosial

Isu penanggulangan bencana dan adaptasi perubahan iklim adalah salah satu kebutuhan paling mendasar dalam dinamika kemasyarakatan di Maluku dan Maluku Utara. Gugusan kepulauan yang membentang “dari ujung Halmahera sampe Tenggara Jauh” ini menyimpan banyak sekali potensi bencana. Kawasan ini jadi titik pertemuan tiga lempeng besar dunia yang sangat aktif yakni lempeng Indo-Australia, lempeng Pasifik dan lempeng Eurasia. Ada juga banyak subduksi yang kerap memunculkan gempa bumi baik di laut maupun daratan.

Selain itu, gugusan kepulauan yang kaya dengan rempah ini punya beberapa gunung api aktif, sesar yang memanjang dari pulau ke pulau serta diapit oleh dua megatrust – Laut Banda bagian Utara dan Filipina – yang memiliki potensi gempa sangat besar dan berpotensi tsunami. Survey terbaru yang dipublikasi akhir tahun lalu menyebut, laut Banda punya lima gunung api bawah laut. Potensi bencana yang mengancam akan bertambah jika kita menghitung ancaman banjir, longsor hingga abrasi dan gelombang laut ekstrim.

Baca Juga  Presiden Prabowo Perintahkan Bahlil Cabut IUP Bermasalah

Jika membaca Katalog Tsunami Indonesia tahun 418 – 2018, kita akan mendapati fakta bahwa sejatinya sejak dulu, saat ini dan nanti, kita hidup di atas patahan yang rapuh. Mayoritas bencana tsunami yang dipicu gempa besar mulai tahun 1600an hingga awal milenium baru berpusat di Maluku dan Maluku Utara. Sepanjang tahun 1600, terjadi 11 gempa besar disertai tsunami dan seluruhnya terjadi di kawasan ini dengan episentrum utama adalah laut Banda.

No More Posts Available.

No more pages to load.