Gereja Tangguh

oleh -268 views

Dalam catatan Wichman, Sieberg dan Heck : tanggal 17 Februari 1674, lindu berkekuatan 6,8 SR mengguncang Maluku disertai terjangan tsunami nyaris setinggi 100 meter. Ini tsunami tertinggi yang tercatat pernah terjadi di Indonesia. 2243 warga meninggal. Rumphius – ilmuwan Jerman yang sedang meneliti keragaman fauna dan flora Maluku adalah salah satu korban yang selamat. Ia menuliskan kisah ini dengan kegetiran yang luar biasa menyesakan. Tanah seperti gelombang laut, naik turun, bangunan runtuh, lonceng lonceng gereja berdentang sendirian. Belum lagi pulih dari keterkejutan, air laut datang melenyapkan muka tanah. Rumphius kehilangan isteri dan anak dalam tragedi ini.

Seabad kemudian, terjadi 12 kali gempa besar disertai tsunami dan delapan diantaranya lagi-lagi berpusat di laut Banda. Mala itu terus berlangsung dengan puluhan gempa serta tsunami sepanjang tahun 1800an. Di awal abad 20, tercatat beberapa gempa dan tsunami yang menyebabkan ratusan orang meninggal terjadi di Sanana, Seram, Obi dan Taliabu.

Baca Juga  Menteri Nusron Instruksikan Jajaran Tuntaskan Berkas Layanan Pertanahan

Lalu mengapa peradaban di Maluku dan Maluku Utara tidak serta merta punah dihantam begitu banyak bencana?. Kita ternyata dianugerahi Tuhan kemampuan untuk beradaptasi. Saya selalu menyebut bahwa sejarah peradaban manusia adalah perjalanan adaptasi. Dalam bukunya : Sapiens – Yuval Harari menyimpulkan jika adaptasi adalah senjata terbaik manusia saat menghadapi perang, kelaparan, wabah dan juga bencana. Kita selalu belajar dari masa lalu untuk menghindari jebakan bencana yang kadang berkelindan dengan kepongahan hidup. Juga kerakusan yang tak berbatas untuk menguasai dan merusak secara bersamaan.

No More Posts Available.

No more pages to load.