Adaptasi disini juga berarti kemampuan untuk memahami perilaku alam. Tak sekedar menghindar tapi menjadi “sahabat” alam. Kita berbagi peran. Saya ingat tulisan Robert Frost, sastrawan Amerika yang banyak sekali menulis puisi-puisi yang mengguncang dunia : “seperti sekeping es di tungku panas, puisi harus mengendarai kemelelehan dirinya sendiri”. Puisi dan kita adalah dua wadah yang sama. Saat ini kita sedang mengendarai bumi yang meleleh sembari menyadari jika kitalah yang membuatnya demikian. Dulu, kita berebut untuk menguasai sebanyak mungkin, entah besok-lusa, kita akan berlomba untuk mengurangi.
Segalanya cepat atau lambat akan menjadi yang lain. Karena itu, kita butuh kemampuan untuk bertahan. Kemampuan itu harus menggabungkan dimensi keimanan dan pengetahuan yang berbasis pada kemajuan sains dan tekhnologi. Keimanan tak hanya dipahami sebagai hubungan yang transenden antara manusia dengan Tuhannya, tetapi juga merangkum dimensi sosial kemasyarakatan – yang bisa jadi juga akan melintasi sekat teologis.
Pada lanskap ini, saya mengapresiasi dinamika dan cara pandang Gereja Protestan Maluku yang memberi ruang yang sangat adaptif bagi isyu penanggulangan bencana dan adaptasi perubahan iklim. Dalam Pola Induk Pelayanan dan Rencana Induk Pengembangan Pelayanan (PIP – RIPP) Gereja – semacam GBHN di masa Orde Baru – yang terus disesuaikan dengan kemajuan peradaban setiap lima tahun, isyu terkait ini telah jadi prioritas. Ada departemen khusus yang mendrive pengelolaan lingkungan hidup dan penanggulangan bencana.








