Oleh: Rudy Rahabeat, Pendeta GPM
Ketua Sinode Gereja Protestan Maluku (GPM) Pdt Elifas Tomix Maspaitella pada pengantar materi khotbah dalam rangka perayaan hari ulang tahun ke-90 GPM antara lain menuliskan bahwa Injil Markus menawarkan sebuah kontra-narasi di tengah imperium Romawi yang mengglorifikasi kekuasaan politik-ekonomi dan budaya. Kontra-narasi yang ditawarkan kekristenan kala itu (tahun 70) adalah komunitas kecil yang saling peduli dan berbagi, berbasis solidaritas dan komunalitas.
Secara teoretik kita dapat merujuk pemikir-pemikir seperti Antonio Gramsci tentang kontra-hegemonik, Jurgen Habermas tentang ruang publik alternatif, Jurgen Moltmann tentang komunitas pengharapan eskatalogis, Walter Brueggemann tentang imajinasi profetik, dan sebagainya.
Sederhananya, komunitas ini dapat disebut komunitas alternatif. Komunitas yang tidak ikut arus dan menjadi serupa dengan dunia, melainkan berani tampil beda berdasakan nilai-nilai Injil. Kisah Para Rasul menarasikan komunitas perdana itu sebagai sebuah model komunitas alternatif, di tengah determinasi dominasi dan hegemoni imperium romanum. Terinspirasi dari kisah komunitas mula-mula itu, penulis menghadirkan beberapa refleksi sederhana pada momentum 90 tahun GPM menuju satu abad kemandirian GPM di tahun 2035.









