Sumber ketiga menyebut pemimpin baru nantinya hanya akan menjabat selama “satu tahun sebagai masa transisi”, sembari menegaskan bahwa ribuan anggota Hamas telah memberikan suara dalam proses pemilihan dewan dan biro politik, meski mekanisme teknis pemungutan suara tidak dirinci.
“Tujuan utama dari proses ini adalah untuk memperbarui legitimasi internal dan mengisi kekosongan kepemimpinan,” kata sumber tersebut.
Dinamika Perang dan Tekanan Internasional
Sejak perang di Gaza pecah menyusul serangan Hamas ke Israel pada 7 Oktober 2023, sejumlah pemimpin senior kelompok itu tewas dalam operasi militer Israel. Di antaranya adalah Ismail Haniyeh yang tewas di Teheran pada Juli 2024 dan Yahya Sinwar yang dilaporkan tewas dalam operasi Israel di Rafah, Gaza selatan.
Israel menuduh Sinwar sebagai dalang serangan 7 Oktober. Pasca kematiannya, Hamas membentuk komite kepemimpinan sementara beranggotakan lima orang yang berbasis di Qatar, sembari menunda penunjukan pemimpin tunggal demi mengurangi risiko menjadi target serangan.
Di tengah gencatan senjata yang dimediasi Amerika Serikat, kekerasan masih terjadi di Gaza dengan kedua belah pihak saling menuduh melanggar kesepakatan. Pemimpin baru Hamas nantinya akan menghadapi tantangan berat, mulai dari tekanan internasional—terutama dari Amerika Serikat dan Israel—agar kelompok tersebut melucuti senjata, hingga resistensi dari sayap bersenjata yang terus bertempur di Gaza.











