“Hal ini tentu diperkuat dengan tali kasih dan persaudaraan, karena darah yang mengalir di tubuhmu sama dengan darah yang mengalir di tubuhku, lalu kemudian munculnya agama untuk memperhalus persaudaraan,” terang Hanubun.
“Untaian kalimat ini sering dikenal dengan “Harta I Fulir, Minan I Umat,” harta ini hanya titipan, namun yang abadi hanyalah saudara,” imbuhnya.
Pada kesempatan tersebut, Hanubun menegaskan, Pemda Malra pada periode ini, masih tetap fokus untuk bangun Kei Besar secara keseluruhan, terutama pada, listrik, sanitasi, air bersih, perumahan, jalan dan telekomunikasi.
“Memang kondisi ini disadari belum terlalu maksimal, namun perlu diakui jika kondisi Malra saat ini dan sebelumnya agak berubah,” ujarnya.
“Bukan hanya itu, dari sektor ekonomi seperti penjualan kompra yang dulunya 2000-3000 kini naik berkisar 7000-8000, karena adanya jalur tol laut, ungkap Hanubun.
Sementara jalan trans Kei Besar, yang seharus diselesaikan juga oleh Balai Provinsi Maluku, namun sengaja meninggalkan dengan alasan Sasi, tapi setelah Sasi dicabut pun, pekerjaan tidak dilanjutkan.
Untuk itu Hanubun berjanji, dalam waktu dekat akan berangkat ke Ambon bersama dengan Wakil Bupati dan Anggota DPRD untuk segera mempertanyakan kelanjutan pekerjaan jalan empat kilometer yang tertunda.









