Healing oh Healing, Benarkah Gen Z Bermental Rapuh?

oleh -230 views

Oleh: Saman Saefuddin, Jurnalis Radar Pekalongan

Mbok yo sing full senyum sayang (Haa-aa-aa)

Ben aku soyo tambah sayang (Haa-aa-aa)

Rasah pusing-pusing

Gek ndang dandan, ayo kita healing

ADA yang tahu lirik lagu ini? Ya, ini adalah potongan lirik lagu “Full Senyum Sayang”, besutan musisi muda jogja, Evan Loss. Jika kamu pengguna aktif platform instagram dan rajin scroll fitur reel, mungkin pernah mendengar lagu ini yang sempat ngehits menjadi backsong beberapa bulan lalu.

Tulisan ini tidak akan membedah lagu “Full Senyum Sayang”, tapi bahwa lagu-lagu bergenre musik campursari ini bisa diterima luas kalangan muda dalam beberapa tahun terakhir, tentu menjadi catatan tersendiri. Bahkan tidak sedikit anak-anak generasi Z menikmati lagu-lagu ini.

Tentu saja ada peran mendiang Didi Kempot sehingga lagu-lagu berbahasa Jawa itu sempat diterima luas masyarakat Indonesia, mungkin mencapai puncaknya di 2019 sampai awal 2020. Setelahnya peran musisi-musisi muda macam Denny Caknan, Ndarboy Genk, Guyon Waton, Woro Widowati, dkk, hingga musisi jalanan seperti Tria Suaka, juga tak bisa dikesampingkan, sehingga lagu campursari disajikan dengan musik yang lebih catchy untuk telinga anak-anak milenial dan zilenial. Beberapa lagu bahkan diaransemen dalam lintas genre, seperti regae hingga meng-infill unsur rap dalam lagunya. Lantas, kenapa lagu-lagu tersebut bisa mendapat tempat di telinga dan hati para zilenial?

No More Posts Available.

No more pages to load.