Het Vrouwtje van Stavoren

oleh -94 views
Link Banner

Oleh: Frieda Amran, Anthropolog, penulis dan pemerhati sejarah, bermukim di Belanda

Menurut buku wisata, ada patung yang menarik di Stavoren,” kata Daphne, tetanggaku yang berlibur bersama kami. “Patung ‘Het Vrouwtje van Stavoren. Cerita tentang dirinya merupakan legenda di sini.”

“Yuk, kita cari!” kataku.

Pergilah kami beramai-ramai, berjalan kaki menjelajah berkeliling ‘kota’ Stavoren. Daphne, suaminya, dua anaknya dan seorang pacar anaknya yang sulung, Misoa, Si Bujang, Si Bungsu dan aku. Dari rumah, lewat satu-satunya supermarket besar di Stavoren, belok kanan lewat jembatan kayu menyeberangi air sungai yang dibelokkan ke kanal di belakang rumah. Lalu, lewat jembatan kayu satu lagi di atas sungai yang mengalir ke pelabuhan di tepi Ijsselmeer. Tibalah di kota. Jam tangan yang menghitung setiap langkahku mencatat 300 langkah dari rumah sampai ke kota (!).

Kami melewati galangan kapal di sebelah kanan, toko-toko pakaian, peralatan memancing, salon rambut, rumah-rumah cantik yang menawarkan penginapan di Bed n Breakfast serta rumah-rumah penduduk. Jalan yang ditelusuri membelah dua: sebelah kiri ke daerah permukiman, sebelah kanan ke daerah pusat kota dengan berbagai restoran, kafe dan di ujungnya, pelabuhan. Kapal-kapal pesiar yang mewah dan yang sederhana berlabuh di sana. Tiang-tiang layarnya menjulang seolah-olah hendak menusuk-nusuk langit. Layar-layar putih, terlipat dan terbuka ditambah dengan bendera-bendera yang berkibar di kapal-kapal itu membuat pelabuhan tampak meriah.

“Setiap kapal yang datang mengibarkan bendera negara asalnya di bagian haluan,” kata Misoa yang waktu muda sering olahraga berlayar bersama sobatnya. “Lihat, ini kapal Belanda. Yang itu kapal Jerman. Di tiang layar yang tengah dikibarkan bendera daerah yang didatangi. Kalau kapal itu dari luar negeri, di tiang tengah juga dikibarkan bendera negara tempat mereka berlabuh.”

Baca Juga  Ramai #indonesiaterserah, Tenaga Medis Juga Lelah

“O,” kataku. “Baru tau …”

Sesama penjelajahku juga mengangguk-angguk. Mereka juga baru tahu. Kuperhatikan kapal yang dari Jerman. Memang, di haluannya berkibar bendera Jerman. Di tiang tengah berkibar dua bendera yang lebih kecil: bendera Belanda dan bendera Friesland. Berarti di setiap pelabuhan, mereka akan membeli bendera daerah setempat dan mengibarkannya sebagai tanda penghormatan.

Daphne dan aku mencari-cari patung ‘t Vrouwtje van Stavoren’ yang terkenal itu. Belum tampak juga.

“Pasti ada di tempat yang mencolok mata,” kata Daphne. “Kan patung itu merupakan salah satu objek wisata yang ditawarkan …”

Kami menyeberangi sebuah jembatan lagi. Friesland adalah negeri jembatan, kupikir. Aku berhenti sebentar untuk membuat foto pelabuhan dan kapal-kapal yang berlabuh. Ada sesuatu yang menghalangi pemandangan. Aku berdecak kesal. Apaan sih? Kok ada ‘gundukan’ aneh persis di tempat yang paling strategis untuk membuat foto. Kuperhatikan ‘gundukan’ itu.

“Daphne!” teriakku, menunjuk-nunjuk ‘gundukan’ itu. Ternyata ‘gundukan’ yang menghalangiku membuat foto bagus adalah patung yang kami cari-cari! Ya ampun. Di foto wisata, patung perempuan bermuka agak sedih itu terlihat besar. Topinya kerucut di atas kepalanya. Matanya kosong memandang jauh ke laut yang kini sudah menjadi danau. Dalam kenyataan, patung itu tidak terlalu besar. Tingginya kira-kira 1.57 (sama tinggi dengan aku!).

Patung ‘t Vrouwtje van Stavoren sama sekali tidak mencolok mata! Aku teringat pada lukisan Monalisa di Museum Louvre, Paris. Setelah antri berjam-jam untuk dapat melihatnya, waktu itu pun aku terheran-heran karena ternyata lukisan itu hanya kecil saja! 77 X 53 cm saja! Aku teringat pula pada patung Mannekenpis di Brussel. Patung setinggi balita umur 2 tahun, 55,5 cm, itu terletak di sebuah sudut jalan. Orang yang sibuk melacak keberadaannya seringkali berdiri membelakangi patung itu ketika sedang tingak-tinguk mencarinya! Berbeda sekali dengan turis yang mencari Borobudur. Tak mungkin ada orang yang bingung mencari Borobudur!

Baca Juga  Ridho Guntoro: PDI Perjuangan Siap Kawal & Menangkan FAM-SAH di Pilkada Kepulauan Sula

Ah, lain lubuk lain ladangnya. Lain negeri, lain objek wisatanya 😃

Bagaimana cerita perempuan Stavoren itu? Seperti legenda-legenda pada umumnya, banyak versi cerita itu. Salah satunya begini.

Suatu saat, dahulu kala seorang janda kaya, pedagang hebat, tinggal di Stavoren. Rumahnya besar berlantai emas dan berdinding perak. Kapal-kapal yang dimilikinya hampir tak terhitung banyaknya. Entah berapa banyak. Yang jelas, jumlahnya jauh lebih banyak dari semua kapal pedagang-pedagang di Stavoren. Setiap hari, kekayaannya semakin bertambah.

Walaupun ia begitu kaya dan tak kekurangan apa pun, ia masih saja tidak puas. Ia menginginkan benda paling berharga di seluruh dunia. Ia memanggil seorang kapten kapalnya dan mengutus lelaki itu untuk mencari benda berharga yang didambakannya.

Dengan layar terkembang, berangkatlah kapal kapten itu. Berbulan-bulan lamanya tak terdengar kabarnya. Musim berganti. Dedaunan mulai gugur dan pepohonan beranting gundul. Suatu hari, orang ramai berteriak dan menunjuk ke pelabuhan. Kapal itu sudah kembali!

Janda tadi, ‘t vrouwtje van Stavoren, segera pergi ke pelabuhan. Tak sabar hatinya ingin melihat benda berharga yang dibawa kapten kapalnya.

“Kapalku sarat dengan benda-benda berharga!” serunya. Dengan bangga ia menunjukkan muatan kapalnya: gandum. Berkarung-karung gandum yang dibawanya dari Danzig. Di matanya, gandum itu jauh lebih berharga daripada emas berkilo-kilo.

‘t Vrouwtje van Stavoren mendelik.

“Hah?! Apa ini yang kau bawa?!” Hardiknya. “Kusuruh kau mencari benda paling berharga di dunia dan kau pulang membawa gandum?!!”

Baca Juga  Benny Wenda Terima Penghargaan "Honorary Freedom" dari Dewan Kota Oxford

Dengan mata melotot, ia membentak kapten kapal itu: “Dari sisi mana kau memuat gandum itu?”

“Dari sisi kanan kapal,” jawab kapten dengan suara gemetar.

“Buang semua gandum itu ke laut! Dari sisi kiri !” teriak Si Janda Kaya.

Seseorang yang berdiri di dekat kapal mendengar kata-kata perempuan itu.

“Janganlah gandum itu dibuang,” katanya. “Suatu saat, kalau kau jatuh miskin dan harus minta belas kasihan orang lain, pastilah gandum itu kau dambakan melebihi emas.”

Si Janda Kaya mencibir. Ia melepas salah sebuah cincin emas di jarinya dan melemparkannya begitu saja ke dalam laut.

“Tak mungkin aku akan melihat lagi cincin emas itu! Dan sama seperti cincin yang kubuang itu, aku tak mungkin akan jatuh miskin!” katanya pongah.

Apa mau dikata. Suatu hari, seorang nelayan datang kepadanya membawa seekor ikan. Di lambung ikan itu tampak sesuatu yang gemerlap. Sebentuk cincin emas! Cincin yang beberapa saat lalu dibuangnya ke laut. Cincin emas yang disangkanya tak mungkin akan diihatnya lagi kini ada di depan matanya! Yang tak mungkin, terjadi.

Pada saat itu juga, nasib Si Janda Kaya berubah. Kapal-kapalnya karam, tenggelam dan tak kembali. Dagangannya tak laku. Uangnya habis. Perhiasannya habis dijual. Sebutir gandum pun tak ada, apalagi sekepal roti.

‘t Vrouwtje van Stavoren jatuh miskin. Setiap hari, ia berdiri di tepi laut, menunggu kapalnya pulang. Sia-sia saja.

Maka itu. Jangan membuang rezeki.

“Siapa mau ‘kibbeling’?” tanya Misoa.

Aku mengacungkan jari. Perut lapar, rezeki datang. Ikan goreng tak boleh ditolak. Itu kearifan Friesland.😊 (*)