“Atas nama Pemerintah Provinsi Maluku, kami menyambut baik dimulainya hilirisasi kelapa dan pala ini sebagai bagian dari program nasional,” ujarnya.
Ia mengungkapkan, produksi kelapa di Maluku telah melampaui 100 ribu ton per tahun, sementara pala mencapai ribuan ton. Namun, potensi besar itu belum sepenuhnya memberikan manfaat optimal bagi masyarakat.
Peluang Industri dan Lapangan Kerja
Menurutnya, hilirisasi akan membuka ruang bagi tumbuhnya industri pengolahan, memperkuat kemitraan dengan petani, serta menciptakan lapangan kerja baru.
Meski demikian, ia mengingatkan pentingnya menjaga stabilitas keamanan dan sosial sebagai fondasi investasi.
“Iklim yang kondusif harus kita jaga bersama. Ini investasi untuk masa depan masyarakat Maluku,” tegasnya.
Ia juga mengapresiasi langkah pemerintah pusat melalui Kementerian Pertanian dan keterlibatan PTPN yang memilih Maluku Tengah sebagai lokasi pengembangan industri, sekaligus mendorong sinergi lintas sektor agar proyek berjalan berkelanjutan.
Akhiri “Paradoks Kekayaan”
Dalam kesempatan itu, Gubernur menyoroti fenomena yang ia sebut sebagai “paradoks kekayaan” di Maluku—daerah kaya sumber daya alam, namun belum menikmati hasilnya secara maksimal.
“Kita kirim bahan mentah keluar, mereka olah, lalu kita beli kembali dengan harga mahal. Ini paradoks yang harus diakhiri,” ujarnya.









