Porostimur.com, Beirut – Perayaan Idulfitri 1447 Hijriah di sejumlah wilayah konflik Timur Tengah berlangsung dalam suasana duka dan keterbatasan. Di Beirut, para pengungsi bahkan lebih fokus mencari tempat berteduh dibanding merayakan hari raya.
Alaa, seorang pengungsi Suriah asal Dataran Tinggi Golan, kini hidup tanpa tempat tinggal setelah wilayah Dahiyeh yang ia tempati hancur akibat serangan Israel.
“Saya ditolak tinggal di sekolah, lalu tidur di tepi laut,” ujarnya. Kini, pusat kota Beirut yang dikenal dengan restoran dan kafe mewah berubah menjadi kawasan tenda darurat bagi para pengungsi.
Hidup di Tengah Ketidakpastian
Lebih dari satu juta orang dilaporkan mengungsi di seluruh Lebanon akibat konflik yang belum menunjukkan tanda akan berakhir. Kondisi ini membuat perayaan Idulfitri kehilangan makna bagi sebagian warga.
Situasi serupa juga terjadi di Iran, yang masih berada dalam tekanan konflik dan krisis ekonomi. Warga kesulitan membeli kebutuhan hari raya, sementara aktivitas di pasar besar Teheran juga dibatasi karena risiko keamanan pasca serangan.
Bahkan, sebagian masyarakat memilih fokus pada perayaan Nowruz (Tahun Baru Persia) dan menghindari perayaan Idulfitri yang dinilai sensitif secara politik.
Gaza: Antara Tradisi dan Realitas Pahit
Di Gaza Strip, kondisi tak kalah memprihatinkan. Warga menghadapi krisis ekonomi akibat perang berkepanjangan dan pembatasan distribusi barang.










