“Mediasi Pakistan dan Qatar telah menghasilkan kemajuan besar untuk mengakhiri Perang Lebanon,” tulis Araghchi.
Ia juga mengungkapkan sejumlah poin penting, termasuk pembebasan ekspor minyak dan petrokimia Iran, pencabutan blokade, pelepasan sebagian aset yang dibekukan, serta rencana rekonstruksi besar-besaran.
Namun, belum ada tanggapan resmi dari pihak AS terkait klaim tersebut.
Ketegangan Masih Membayangi
Meski ada kemajuan, situasi tetap rapuh. Sebelumnya, Iran sempat menutup Selat Hormuz sebagai respons atas serangan gabungan AS dan Israel pada 28 Februari yang memicu konflik regional.
Lebanon turut terseret konflik setelah Hizbullah—sekutu Iran—melancarkan serangan ke Israel, yang dibalas dengan bombardir besar-besaran oleh militer Israel.
Kesepakatan awal pekan lalu memang mencakup penghentian pertempuran di Lebanon, namun bentrokan sporadis masih terjadi dan mengancam proses perdamaian.
Saling Ancam di Tengah Negosiasi
Proses negosiasi juga sempat diwarnai ketegangan. Delegasi Iran dilaporkan meninggalkan ruang perundingan setelah Presiden AS Donald Trump mengancam akan melancarkan serangan baru jika Teheran tidak menghentikan dukungannya terhadap Hizbullah.
Trump memperingatkan Iran untuk segera menghentikan “proksi mereka di Lebanon”.
Menanggapi hal itu, kepala negosiator Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, memberikan peringatan balik.









