Selain itu, dalam Pasal 10 MoU, Ghalibaf menyebut adanya pelonggaran terkait penjualan minyak mentah, petrokimia, hingga sektor perbankan, asuransi, dan transportasi. Ia menilai langkah ini membuka ruang bagi Iran untuk kembali menggerakkan ekonominya.
Lebanon dan Alasan Iran ke Meja Perundingan
Isu kedua yang disoroti adalah keterlibatan Iran dalam meredakan konflik di Lebanon. Ghalibaf menyebut kedua pihak sepakat membentuk pusat koordinasi guna mencegah eskalasi konflik di kawasan tersebut.
“Kami sepakat membangun pusat untuk menangani setiap perselisihan, mencegah kembalinya perang, dan memastikan kedaulatan Lebanon dihormati,” katanya.
Ia juga menanggapi kritik dalam negeri terkait keputusan Iran berunding dengan AS. Menurutnya, langkah tersebut justru untuk menghentikan pertumpahan darah yang lebih luas.
“Jika kami tidak pergi ke Swiss, maka setiap saat lebih banyak darah akan tertumpah dari kaum Muslim dan Syiah di Lebanon,” ujar Ghalibaf.
Pernyataan itu sekaligus menegaskan bahwa kehadiran Iran di meja diplomasi tidak semata soal kepentingan bilateral, tetapi juga stabilitas kawasan.
Selat Hormuz dan Perubahan Peta Strategis
Poin ketiga yang diklaim sebagai kemenangan adalah perubahan mekanisme pengelolaan Selat Hormuz, jalur vital perdagangan energi dunia.
Ghalibaf menegaskan bahwa pengelolaan selat tersebut tidak akan kembali seperti sebelum perang. Iran, kata dia, telah menyepakati pembentukan mekanisme koordinasi baru.











