Porostimur.com, Islamabad – Iran memasuki perundingan dengan Amerika Serikat (AS) di Islamabad dari posisi yang dinilai semakin percaya diri, seiring perubahan dinamika diplomatik di tengah ketegangan kawasan Timur Tengah.
Pandangan itu disampaikan Profesor Zohreh Kharazmi yang menilai fakta bahwa perundingan kini berlangsung menunjukkan adanya pergeseran sikap dari pihak Washington.
“Dulu Presiden AS, Donald Trump, menuntut penyerahan tanpa syarat pada 6 Maret. Namun sekarang AS justru berada di meja perundingan,” ujar Kharazmi kepada Al Jazeera.
Ia menegaskan Iran tetap konsisten dengan syarat-syaratnya dalam negosiasi tersebut.
“Iran teguh dengan syarat-syaratnya. Dan setidaknya beberapa syarat penting akan disetujui, mungkin tidak pada putaran ini, tetapi pada putaran berikutnya,” katanya.
Selat Hormuz Jadi Kunci Tekanan Iran
Kharazmi menyoroti pentingnya Selat Hormuz sebagai instrumen strategis Iran dalam menghadapi tekanan geopolitik.
Menurutnya, Teheran memandang kendali atas jalur pelayaran tersebut sebagai alat untuk memastikan biaya konflik dapat ditekan atau bahkan dipulihkan.
Ia menambahkan, pemimpin tertinggi Iran kembali menegaskan bahwa Selat Hormuz tidak akan dengan mudah diserahkan kepada pihak lain.
PBB Dorong De-eskalasi
Sementara itu, Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres melihat perundingan di Pakistan sebagai peluang untuk meredakan ketegangan.











