“Pertahanan udara Kuwait saat ini menghadapi serangan rudal dan drone musuh,” kata Staf Umum Angkatan Darat Kuwait dalam pernyataannya, sembari mengimbau warga tetap mengikuti arahan keselamatan.
Konflik Berkepanjangan dan Gencatan Senjata Rapuh
Insiden ini terjadi di tengah hubungan yang masih tegang antara Iran dan Amerika Serikat, meski sebelumnya sempat dicapai gencatan senjata yang dimediasi Pakistan pada 8 April lalu.
Namun, hingga kini belum ada kesepakatan final terkait negosiasi antara kedua negara. Bahkan, saling serang masih terus terjadi, termasuk serangan udara besar-besaran oleh AS dan Israel pada Februari lalu yang dibalas Iran dengan ribuan serangan rudal dan drone di berbagai titik di Timur Tengah.
Negosiasi Mandek, Ancaman Militer Masih Terbuka
Ketua parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, menegaskan bahwa negaranya tidak akan menyetujui kesepakatan apa pun sebelum hak-hak rakyat Iran dipenuhi.
Di sisi lain, Presiden AS Donald Trump kembali menegaskan bahwa mencegah Iran memiliki senjata nuklir tetap menjadi prioritas utama Washington.
“Satu-satunya jaminan yang harus saya miliki adalah tidak adanya senjata nuklir,” ujarnya, sembari mengisyaratkan opsi militer tetap terbuka jika jalur diplomasi gagal.
Dengan situasi yang kembali memanas, komunitas internasional kini menyoroti potensi eskalasi konflik yang lebih luas di kawasan Timur Tengah, terutama jika kedua pihak tidak segera menemukan titik temu melalui jalur diplomasi.












