Isi Dokumen Baru Tragedi 1965: Inggris Serukan Pembunuhan Massal

oleh -63 views
Link Banner

Porostimur.com – Jakarta: Dokumen-dokumen yang semula dirahasiakan, mengungkapkan bagaimana keterlibatan Inggris dalam menghasut pembantaian massal anti-komunis di Indonesia pada tahun 1965, yang menewaskan ratusan ribu orang.

Temuan seputar tragedi 1965 tersebut pertama kali diberitakan oleh media-media Inggris, The Observer dan The Guardian dalam artikel yang diterbitkan pada Minggu (17/10).

Dalam artikel itu disebutkan tentang Ed Wynne, seorang pejabat dari Kantor Luar Negeri Inggris di London, yang ditugaskan untuk membuat propaganda di Indonesia.

Seperti ditulis The Guardian, Wynne bukanlah pejabat biasa. Dia adalah seorang spesialis dari sayap propaganda perang dingin Kementerian Luar Negeri Inggris, Departemen Riset Informasi (IRD).

Wynne ditugaskan untuk memimpin sebuah tim kecil dan membuat pamflet propaganda berisi seruan kepada Indonesia untuk melenyapkan Partai Komunis Indonesia (PKI). Seorang pejabat junior, empat warga lokal dan dua “wanita IRD”, yang diperbantukan ke unit tersebut, akan bergabung dengannya.

Pamflet yang baru-baru ini dirilis di Arsip Nasional Inggris tersebut, dimaksudkan untuk seakan-akan ditulis oleh patriot Indonesia, tetapi sebenarnya ditulis oleh para ahli propaganda Inggris. Berdasarkan arsip yang tersebar dan diterima CNNIndonesia.com, Wynne memang mengirimkan sebuah surat dan pamflet untuk kemudian disebarkan ke dalam Bahasa Indonesia. Salah satu arsipnya yaitu pamflet edisi khusus ‘Kenjataan2 Pada Kudeta 30 September.

Baca Juga  Ini Dia 3 Kelompok OTG yang Wajib Diketahui Masyarakat

Untuk menyamarkan buletin asal Inggris itu dikirim ke Indonesia melalui kota-kota Asia termasuk Hong Kong, Tokyo dan Manila. Dalam laporan The Guardian, disebutkan selama setahun 28.000 eksemplar buletin, yang ditulis dalam bahasa Indonesia dan disebut Kenjataan2 (Fakta 2), telah dikirim.

“Untuk John, silakan lihat surat saya SE/01/65 tanggal 11 Oktober. Sekarang saya lampirkan salinan edisi khusus Kenjataan2 pada kudeta 30 September, dalam bahasa Inggris dan Indonesia, untuk informasi Anda,” tulis Wynne disertai tanda tangannya pada 13 Oktober 1965.

The Guardian menulis bahwa dua tahun sebelum pembantaian massal PKI tahun 1965, sebagai tanggapan atas rencana Inggris untuk menciptakan negara Malaysia merdeka dari jajahan kolonialnya, Presiden Indonesia yang berhaluan kiri Sukarno meluncurkan “Konfrontasi”, sebuah perang yang tidak diumumkan yang mencakup serangan militer di perbatasan ke Malaysia Timur.

Sukarno, seperti halnya banyak masyarakat Indonesia, termasuk PKI, percaya bahwa pembentukan federasi Malaysia adalah campur tangan regional yang tidak beralasan oleh Inggris untuk mempertahankan dominasi kolonial mereka.

Inggris terpaksa mendedikasikan sumber daya militer dan intelijen yang besar untuk membantu Malaysia melawan intrusi Konfrontasi ini. Kebijakan Inggris adalah untuk mengakhiri konflik. Tetapi, ternyata tujuan Inggris tidak berakhir di situ saja.

Baca Juga  Kanwil Kemenag Maluku Gelar Upacara HAB Kemenag ke 75

Seperti sekutunya, Amerika Serikat dan Australia, Inggris takut akan Indonesia yang komunis. PKI memiliki tiga juta anggota dan dekat dengan China. Di Washington, jatuhnya Indonesia ke dalam kubu komunis dipandang sebagai ancaman yang lebih besar daripada potensi kerugian Vietnam.

Nasionalisme non-blok Sukarno, anti-kolonialisme dan hubungan yang berkembang dengan China dipandang sebagai ancaman, yang akan berkurang jika sang presiden dan menteri luar negerinya, Subandrio dicopot dari jabatan mereka dan pengaruh PKI di Indonesia berkurang — paling masuk akal melalui tindakan tentara Indonesia yang sebagian besar anti-komunis.

Pada pertengahan tahun 1965 kesempatan itu tiba. Sebuah kelompok sayap kiri rahasia, yang kemudian disebut “Gerakan 30 September”, bersatu di Indonesia, yakin dengan beberapa alasan, bahwa tentara berencana untuk menggulingkan Sukarno dan menekan PKI.

Pada malam tanggal 30 September, para perwira kiri yang terkait dengan G-30-S, di bawah komando Letkol Untung dari pasukan pengawal presiden, didukung oleh beberapa batalyon, mencoba melakukan serangan pendahuluan terhadap komando tinggi Angkatan Darat. Mereka berusaha menangkap tujuh jenderal paling senior Angkatan Darat Indonesia. Tiga, termasuk komandan tentara, tewas. Tiga lainnya dibunuh di pangkalan Angkatan Udara Indonesia. Mayat para jenderal yang dibunuh itu ke dalam sumur.

Baca Juga  Sejumlah Bantuan Mengalir ke Gustu Covid-19 Provinsi Maluku

Intelijen Inggris kemudian memanfaatkan peristiwa G30S itu. Mereka menyebut, biang kerok dari peristiwa tersebut adalah PKI. Mereka bahkan menyebut PKI sebagai penyakit kanker. Mereka menghembuskan semangat agar Angkatan Darat dan warga lain menumpas PKI.

“Keganasan dan pembunuhan biadab pada tanggal 30 September yang lalu sangat menyedihkan kita semua. Tindakan orang orang yang ganas itu terhadap pembela negara negara kita dengan nyata sekali menunjukkan bagaimana bentuk zaman kita, kalau komunis dibiarkan meneruskan tindakan-tindakan mereka menghancurkan revolusi kita,” demikian paragraph pembuka pamflet tersebut.

The Guardian menulis bahwa tim Wynne telah menjadi salah satu operasi propaganda paling sukses dalam sejarah Inggris pascaperang. Sebuah operasi rahasia yang membantu menggulingkan Sukarno, pemimpin negara terpadat keempat di dunia dan berkontribusi pada pembunuhan massal lebih dari setengah juta warganya.

(red/CNN/detikcom)