Begitulah isu anak.
Ia jarang datang dengan ledakan yang mengundang perhatian. Ia hadir sebagai bunyi-bunyi kecil yang kerap luput dari pendengaran kita.
Kekerasan terhadap anak tidak selalu meninggalkan memar di tubuh. Pengabaian tidak selalu menghasilkan tangisan. Putus sekolah tidak selalu menjadi berita utama. Stunting tidak selalu terlihat di atas panggung-panggung seremoni. Perundungan sering berlangsung tanpa saksi. Kesepian anak-anak bahkan lebih sering disembunyikan di balik senyum yang mereka paksa.
Semuanya bekerja perlahan, seperti blue notes dalam musik blues—nada yang sengaja diturunkan sedikit, tetapi justru meninggalkan getaran yang paling lama.
Sayangnya, sebagai masyarakat, kita sering kali baru bergerak ketika dentuman itu berubah menjadi ledakan.
Kita baru ramai ketika angka kekerasan meningkat. Baru sibuk ketika kasus eksploitasi anak viral di media sosial. Baru menggelar rapat ketika ada korban. Seolah-olah perhatian hanya pantas diberikan kepada tragedi yang telah terlambat dicegah.
Padahal, persoalan anak tidak pernah dimulai dari peristiwa besar. Ia selalu berawal dari hal-hal kecil yang kita abaikan.
Ada anak yang tumbuh terlalu cepat karena harus ikut bekerja membantu orang tuanya. Ada anak yang memilih diam karena berkali-kali merasa suaranya tidak penting. Ada anak yang mengubur cita-citanya sebelum sempat memperjuangkannya karena yakin masa depan bukanlah miliknya.









