Mereka tidak berteriak.
Tetapi bukan berarti mereka baik-baik saja.
Pengalaman di Tual pagi itu menjadi pengingat bahwa kepedulian terhadap anak tidak selalu harus diwujudkan dalam program yang besar. Membaca Buku Serentak—hasil kolaborasi Remaja Masjid Al-Hurriyah ’45, Perpustakaan Daerah Kota Tual, dan para pegiat literasi—barangkali tampak sederhana. Bahkan mungkin terlalu biasa bagi sebagian orang.
Namun justru di dalam kesederhanaan itulah saya melihat bentuk perlawanan yang paling halus sekaligus paling mendasar.
Literasi bukan sekadar mengajarkan anak mengenal huruf. Literasi adalah cara masyarakat mengatakan kepada anak-anak, “Kami mendengar kalian.”
Ketika seorang anak diberi buku, ia sedang diberi bahasa untuk memahami dirinya sendiri.
Ketika seorang anak diberi ruang untuk bercerita, ia sedang diyakinkan bahwa suaranya memiliki arti.
Ketika seorang anak didampingi membaca, ia sedang diberi keyakinan bahwa masa depannya layak diperjuangkan.
Hari itu saya melihat perubahan yang nyaris tak kasatmata, tetapi sangat berarti.
Ada anak yang semula hanya menunduk, kemudian mengangkat kepala ketika diminta membaca di depan teman-temannya. Ada yang awalnya hanya menjadi pendengar, lalu memberanikan diri bertanya, “Beta boleh ganti buku lain?”









