Isu Anak: Dentuman Blues yang Terlalu Lama Kita Abaikan

oleh -28 Dilihat

Barangkali bagi sebagian orang, itu hanyalah momen biasa.

Bagi saya, itu adalah tanda.

Tanda bahwa keberanian selalu bertumbuh ketika anak merasa aman. Bahwa rasa percaya diri lahir ketika ada orang dewasa yang bersedia hadir, bukan sekadar mengawasi. Dan bahwa masa depan tidak dibangun hanya dengan ruang kelas dan angka-angka statistik, melainkan juga melalui perjumpaan-perjumpaan kecil yang membuat seorang anak merasa dirinya berharga.

Inilah makna sesungguhnya dari tema Hari Anak Nasional tahun ini.

Menyayangi anak bukan sekadar memenuhi kebutuhan biologisnya.

Melindungi anak bukan hanya memastikan tubuhnya aman dari kekerasan.

Membangun masa depan bukan semata-mata mengantar mereka ke sekolah.

Lebih dari itu, menyayangi berarti menyediakan ruang yang membuat anak berani menjadi dirinya sendiri. Melindungi berarti memiliki kepekaan untuk mendengar suara-suara yang nyaris tak terdengar. Membangun berarti membuka akses terhadap pengetahuan, imajinasi, percakapan, dan harapan.

Baca Juga  Saadiah Uluputty: Konflik Lisabata-Patahuwe Bukan Sekadar Masalah Keamanan

Sebab masa depan bangsa tidak hanya ditentukan oleh berapa banyak sekolah yang dibangun, melainkan juga oleh seberapa sungguh-sungguh kita membangun manusia di dalamnya.

Blues mengajarkan bahwa dari kesedihan yang jujur dapat lahir ketangguhan. Dari nada yang pelan dapat lahir gema yang panjang. Dari luka yang diakui dapat tumbuh harapan baru.

No More Posts Available.

No more pages to load.