IWPG Desak Militer Myanmar Hentikan Kekerasan Terhadap Warga Sipil

oleh -38 views
Link Banner

Porostimur.com | Seoul: Ketua Internasional Women’s Peace Group (IWPG) Hyun Sook Yoon, menyatakan keprihatinannya atas pelanggaran hak asasi manusia dan pertumpahan darah rakyat di Myanmar. Melalui pernyataan tertulisnya yang diterima porostimur.com, Senin (5/4/2021), Hyun Sook Yoon menyatakan bahwa militer Myanmar dan para demonstran harus menyelesaikan masalah ini tanpa kekerasan dan dengan cara yang damai.

Menurut pernyataan tersebut, IWPG mengatakan, “Militer Myanmar mengerahkan kekuatan mereka untuk menekan demonstrasi tanpa kekerasan yang mulai dilakukan warga Myanmar pada Februari 2021. Bahkan sampai saat ini, banyak rakyat Myanmar yang terluka dan meninggal dunia. Kehidupan manusia tidak boleh diabaikan untuk alasan apa pun, dan kekerasan yang mengorbankan nyawa manusia tidak dapat diterima untuk tujuan apa pun.”

Selain itu, “Kami akan bersatu dengan kelompok sipil perempuan di seluruh dunia untuk mencapai perdamaian di Myanmar. Kami akan terus mendesak masyarakat internasional untuk secara damai menyelesaikan pertumpahan darah di Myanmar,” ujarnya.

IWPG juga meminta masyarakat internasional dan Myanmar untuk mengakhiri penindasan bersenjata dari militer Myanmar serta menghormati hak asasi manusia dan kebebasan berpendapat warganya, agar militer Myanmar dan para pengunjuk rasa dapat berpartisipasi dalam dialog untuk mencapai keputusan yang damai, untuk mendesak Perserikatan Bangsa-Bangsa dan Global Alliance of National Human Rights untuk secara aktif menanggapi permasalahan ini, untuk mendesak masyarakat sipil perempuan lainnya di seluruh dunia untuk mengumumkan pernyataan untuk Myanmar, serta untuk mendesak pers dan media di setiap negara untuk secara aktif meliput.

Untuk diketahui, IWPG adalah LSM berstatus konsultatif khusus dengan ECOSOC PBB dan berkantor pusat di Korea Selatan. Untuk mengembangkan aktivitas perdamaian dengan wanita di seluruh dunia, “Handwritten Letters of Peace” (Surat Tulisan Tangan untuk Perdamaian) ini telah dikirim ke 191 negara.

Baca Juga  Warga Capalulu Pasang Spanduk Tolak Hendrata Thes di Desa

Berikut Pernyataan IWPG tentang Kekerasan Berdarah di Myanmar:

Militer Myanmar mengerahkan kekuatan untuk meredam unjuk rasa tanpa kekerasan yang dilakukan oleh warga Myanmar yang dimulai pada Februari 2021, dan bahkan sampai saat ini, banyak rakyat Myanmar terluka dan meninggal dunia. Hal ini sangat mengejutkan bagi komunitas internasional.

IWPG dan seluruh anggota IWPG dari seluruh dunia menghibur para korban, mengkhawatirkan tentang kekerasan berdarah ini.

Kehidupan manusia tidak boleh diabaikan dengan alasan apapun, dan kekerasan yang mengorbankan nyawa manusia tidak dapat diterima untuk tujuan apapun.

Dengan keprihatinan mendalam atas pelanggaran hak asasi manusia dan pertumpahan darah rakyat Myanmar, kami mendesak militer Myanmar dan pengunjuk rasa untuk menyelesaikan situasi dengan cara
tanpa kekerasan, bukan dengan kekerasan melainkan dengan cara damai.

Baca Juga  Serda Ridwan Payopo Anggota Paspampres, Jadi Imam & Khatib Salat Idul Fitri di Halaman Istana Bogor

Kami, IWPG, akan bekerja sama dengan organisasi masyarakat sipil perempuan di seluruh dunia untuk perdamaian di Myanmar, dan akan terus mendesak komunitas internasional untuk memastikan bahwa warga
Myanmar memiliki hak asasi untuk hidup. Kami berharap situasi saat ini dapat diselesaikan secepatnya melalui dialog dan kesepakatan berdasarkan rasa saling menghormati dan pengertian, dan kami akan secara aktif menginformasikan situasi di Myanmar kepada publik di seluruh dunia.

Permohonan Kami

  1. Militer Myanmar harus segera menghentikan penindasan dengan menggunakan angkatan bersenjata, seperti menembak ke arah warga, dan menghormati hak asasi manusia dan kebebasan berpendapat warga negara Myanmar.
  2. Kedua belah pihak baik militer Myanmar dan pengunjuk rasa harus mengungkapkan penyesalan mereka kepada semua orang di dunia atas pertumpahan darah saat ini dan berpartisipasi dalam dialog untuk mencari solusi damai untuk masalah tersebut.
  3. Mempertimbangkan keseriusan pertumpahan darah di Myanmar, Perserikatan Bangsa-Bangsa dan Global Alliance of National Human Rights Institute harus bekerja sama dalam membangun resolusi damai di Myanmar dengan tanggapan proaktif.
  4. Kelompok perempuan masyarakat sipil di seluruh dunia harus mengeluarkan pernyataan untuk solusi damai di Myanmar dan secara aktif mendesak setiap negara untuk melaporkan kepada media.
Baca Juga  Polda Maluku Gelar Ujian Akademik Naskah Karya Perorangan

(red)