JATAM: Kepemimpinan Sherly Tjoanda Muluskan Oligarki Tambang di Malut

oleh -0 Dilihat

Sebelumnya dalam debat kedua Pilgub Maluku Utara pada Selasa, 19 November 2024 di Auditorium Universitas Muhammadiyah Maluku Utara (UMMU), Sherly menekankan pentingnya menjadikan pelestarian lingkungan sebagai prioritas dalam kepemimpinannya.

Saat itu Sherly menyoroti kerusakan lingkungan yang terjadi di Teluk Weda Halmahera Tengah dan Teluk Buli, Halmahera Timur sebagai akibat dari dampak aktivitas tambang nikel disertai pengelolaannya.

“Kami tidak hanya berbicara, tetapi juga akan bertindak dengan langkah konkret untuk merehabilitasi lingkungan Maluku Utara,” ujar Sherly dalam debat tersebut.

Julfikar menyebut selain partai pengusungnya, Sherly Tjoanda sebenarnya merupakan aktor yang berkepentingan langsung dengan pertambangan serta industri ekstraktif di Maluku Utara.

Penelusuran JATAM menemukan setidaknya ada enam industri berbasis lahan yang terhubung dengan Sherly, yakni PT Indonesia Mas Mulia (emas), PT Amazing Tabara (emas), PT Bela Sarana Permai (Pasir Besi), PT Karya Wijaya (Nikel), PT Bela Kencana (Nikel), dan PT Bela Berkat Anugerah (Kayu Log).

Baca Juga  Material Galian C Wai Riuwapa Diduga Mengalir ke Surya Baru dan DIY, Nilainya Capai Rp900 Juta

“Berbagai izin usaha berbasis lahan itu rata-rata Sherly memiliki menguasai saham mayoritas. Meski di antaranya ada yang sudah dicabut. Namun situasi ini mengkonfirmasi kalau Sherly sebagai gubernur juga merupakan seorang pebisnis ekstraktif yang tidak terbebas dari kepentingan,” ucapnya.

“Sejalan dengan itu, kami menilai roda pemerintahan Provinsi Maluku Utara selama lima tahun ke depan berada dalam kendali oligarki. Di saat yang sama, tidak menutup kemungkinan Sherly dengan jabatannya sebagai gubernur bisa saja memperluas gurita bisnisnya,” sambung Julfikar.

No More Posts Available.

No more pages to load.