Jejak Binongko di Ambon: Diaspora Buton di Maluku

oleh -458 views

Beberapa di antara mereka berperan sebagai pedagang utama yang memiliki modal untuk membeli kopra secara tunai. Sebagian lain menjadi pengangkut, menawarkan jasa frak atau pengiriman barang dengan sistem sewa perahu. Semua hasil dibagi setelah musim pelayaran berakhir.

Di setiap perjalanan, kerja sama antara pelaut Buton dan petani Maluku tumbuh menjadi kemitraan yang unik, diikat oleh rasa saling percaya dan gotong royong.

Bahasa Cia-Cia, yang dituturkan sebagian orang Buton dan Seram Barat, memperlancar komunikasi. Di pasar pesisir, tawar-menawar sering berlangsung dalam bahasa yang sama, memperkuat rasa kekerabatan yang tumbuh di antara mereka.

Pada awal abad ke-20, orang Buton mulai membangun permukiman tetap di Ambon. Mereka menempati kawasan Pasar Lama, Batu Merah, hingga Passo, dan menamai kampung-kampung itu sesuai asal mereka, seperti Kampung Tomia dan Kampung Binongko.

Di pasar, mereka berdagang rempah dan kebutuhan rumah tangga, di pelabuhan mereka bekerja membongkar muatan kapal layar. Setelah tahun 1980-an, sebagian menjadi pengusaha besi bekas, memperlihatkan kemampuan luar biasa beradaptasi terhadap dinamika ekonomi kota.

Baca Juga  Pemkot Tual Gelar Rangkaian Kegiatan Sambut Hardiknas 2026

Penutup: Laut yang Menyatukan

“Sejarah Buton adalah sejarah yang kental dengan etos kebaharian,” ujar Prof. Susanto Zuhdi, sejarawan Universitas Indonesia yang meneliti jejak diaspora ini selama lebih dari dua dekade.

No More Posts Available.

No more pages to load.