Dalam politik dinasti, titik paling lemah adalah … ya keluarga. Dan akhir-akhir ini terungkap bahwa biarpun Jokeri pura-pura miskin lagi (naik Innova, batiknya tidak lagi cerah, etc.), kelakuan anak dan mantunya yang bermewah-mewah itu membikin publik marah.
Sama seperti Soeharto dulu. Selain menakutkan, Soeharto adalah pemimpin populer. Dia juga suka bagi-bagi bansos, dia suka pertanian, dan taat pada kaum teknokratnya untuk memprioritaskan pada pembangunan ekonomi.
Namun, kelakuan anak-anaknya menjatuhkan dia. Beda Soeharto dengan Jokeri adalah bahwa Soeharto melarang anak-anaknya terjun ke politik. Jokeri menggabungkan keduanya. Anak mantunya berbisnis dan berpolitik.
Antipati terhadap keluarga Jokeri akhirnya menghapus semua kapital politik yang dia miliki. Bahkan sampai saat ini, saya tidak melihat jalan keluar untuk Jokeri. Posisi si Gibas menjadi wapres juga goyah. Bukan tidak mungkin nanti wapres baru akan diangkat oleh MPR. Sangat mungkin justru itu datang dari golongan banteng. Kalau ini terjadi, Jokowi jelas ditelanjangi dari semua kekuasaan.
Dengan kata lain, Jokeri sudah tersudut. Dia tidak punya jalan keluar yang terhormat. Ya, karena ulahnya sendiri. (*)










