Kaum Muda yang Mati Sebelum Tua

oleh -213 views

Gerakan mereka kini mudah dibaca. Cukup lihat bagaimana mereka bersikap terhadap kelompok yang berseberangan dengan rezim. Maka akan tampak jelas siapa yang sedang menjadi corong. Mereka berkoor dengan diksi dan narasi yang seragam, bagai robot yang digerakkan oleh tangan tak terlihat. Bahasa mereka kehilangan nyawa—hanya gema, bukan suara. Hanya pengulangan dari naskah yang ditulis oleh kekuasaan.

Dan yang lebih menyedihkan, banyak dari mereka menutupi kepentingannya di balik simbol-simbol suci; moral, agama, dan nasionalisme. Padahal yang diperjuangkan bukan nilai, melainkan akses; bukan cita-cita, melainkan keuntungan. Dari sana, semangat suci berubah menjadi alat tawar. Dan sekali prinsip dijual, segalanya bisa dibarter—termasuk kebenaran.

Baca Juga  Kapal Induk Terbesar AS USS Gerald R. Ford Ditarik dari Timur Tengah

Inilah tragedi generasi muda kita. Generasi yang kehilangan arah, kehilangan marah. Mereka tumbuh dengan semangat instan; ingin cepat berpengaruh, cepat dikenal, cepat kaya. Mereka belajar bahwa jalan tercepat menuju kekuasaan bukan melalui gagasan, melainkan kedekatan. Maka pemuda hari ini lebih sibuk menjaga relasi ketimbang menjaga nurani.

Padahal sejarah bangsa ini berdiri di pundak mereka yang berani melawan, bukan mereka yang pandai menjilat. Dari pemuda 1908 hingga pemuda 1998, semangat mereka bukan semangat komisaris—melainkan semangat berkorban. Siap kehilangan segalanya demi sesuatu yang lebih besar. Tapi kini, pemuda kehilangan definisinya. “Pemuda” tak lagi berarti keberanian, melainkan usia. Mereka muda hanya di KTP, tapi renta dalam keberpihakan.

No More Posts Available.

No more pages to load.