Kejujuran dan 100 Hari Kerja Kepala Daerah

oleh -399 views

Kita mulai tempatkan angka kebenaran di atas kepentingan (sekalipun mungkin tidak relevan secara politis).

Memuja data agregat

Ada satu kegemaran yang membentuk watak kolektif kita, yaitu sangat “doyan” mempertontonkan data agregat, bukan data terurai.

Kita suka dengan angka-angka besar yang mengilap, sebagai panggung glamor tempat semua keberhasilan kita pertontonkan ke publik. Padahal, kita tahu bahwa di balik tirainya, banyak cerita yang tak tersuarakan, banyak luka yang tak terdata.

Data agregat menjadi primadona kita setiap kali melaporkan capaian program pembangunan. Kita sebutkan bahwa 95 persen target program telah tercapai. Bahwa indeks kebahagiaan meningkat. Bahwa angka kemiskinan menurun secara signifikan.

Namun, kita enggan bertanya, 95 persen itu siapa? Bahagia yang dirasakan siapa? Kemiskinan menurun di daerah mana?

Baca Juga  Karyawan Tambang di Halmahera Selatan Meregang Nyawa, Diduga Overdosis Miras

Yang kita tampilkan hanya satu wajah besar, sedangkan wajah-wajah kecil di baliknya justru memucat dan berkerut.

Kita lebih tertarik membicarakan tentang berapa banyak masyarakat yang telah terbantu daripada siapa yang masih tertinggal.

Kita senang mendengar bahwa program pendidikan berhasil menjangkau 87 persen anak usia sekolah, tapi kita tidak banyak menyampaikan siapa saja 13 persen yang tertinggal dan kenapa mereka gagal terjangkau.

No More Posts Available.

No more pages to load.