Kemiskinan dalam Kekayaan

oleh -35 views
Link Banner

Oleh: Dino Umahuk, Sastrawan dan Jurnalis

”Keinginan Adalah Sumber Penderitaan.” – Seperti Matahari, (Iwan Fals).

Mungkin sudah lumrah sebagian kita memandang bahwa harta benda merupakan alat untuk mengukuhkan identitas sosial yang sangat penting dalam kehidupan. Kekayaan harta bendawi telah menjadi tolok ukur kebahagiaan, kepuasan, dan kenikmatan hidup.

Secara kasat mata, harta benda memang telah mencukupi hidup dan kepuasan kita, namun apakah semua harta benda itu “benar-benar” mencukupi hidup kita? Atau jangan-jangan semua itu hanya kepuasan semu? Masihkah ada yang ingin kita capai?

Karena terkadang kita tidak pernah merasa cukup dengan semua itu, kita terus saja menumpuk harta kekayaan, mengejar ambisi jabatan, status sosial, dan lain sebagainya. Sebenarnya apa yang kita cari?

Ambisi dan keinginan benar-benar telah membutakan kita. Tidak sedikit dari kita yang ketika kesulitan dan kesengsaraan melanda hidup, kita berusaha memohon mati-matian kepada Allah untuk keluar dari kesulitan tersebut, namun ketika Tuhan melimpahkan rezekinya, kita kemudian berpaling dari-Nya, kita seakan menjadi orang yang tidak sadar karena dimabuk harta yang berlimpah. Bukankah itu berarti kita telah berlaku curang? Sungguh kerdil dan tamaknya manusia.

Baca Juga  Pemkot Ambon Ajak Warga Serentak Berdoa Tolak Covid-19

Allah SWT ”menyindir” mereka sebagai “orang-orang yang tidak sadar” yaitu orang-orang yang menjadikan harta benda sebagai tolok ukur kekayaannya. Apakah mereka mengira bahwa harta dan anak-anak yang Kami berikan kepada mereka itu (berarti bahwa), Kami bersegera memberikan kebaikan-kebaikan kepada mereka? Tidak, sebenarnya mereka tidak sadar. (QS. Al-Mukminun: 55-56).

Mengapa kita begitu tamak dan tidak pernah merasa puas? Mengapa kita tidak pernah merasa cukup dan tidak pernah merasa bahagia dengan apa yang telah kita miliki?  Mari kita merenung sejenak dan tanyakan semuanya itu kepada hati kita.

Apakah kita sudah mengenalnya? Apakah kita pernah “berdialog” dengannya? Apakah kita sudah merawatnya seperti kita merawat harta benda duniawi kita?.

Hati harus dipahami, karena hati adalah alat yang dapat kita gunakan untuk mengkonter nafsu keinginan kita. Dengan memahami hati, kita akan memiliki “rem” untuk membatasi keinginan, nafsu, ambisi yang terkadang membutakan mata kita.

Keinginan selalu terbawa dalam mimpi kita, membuat kita mencari bagaimana caranya mewujudkan keinginan itu dengan cara apa pun, dan tanpa kita sadari sebenarnya kita telah menjadi budak ambisi yang sampai kapan pun tak kan pernah usai.

Baca Juga  Setelah Pandu Riono dan Tempo, Kini Giliran Situs CISDI Terkena Serangan Siber

Keinginan akan terus membuat kita menjadi makhluk yang tak pernah merasa puas berambisi, penuh kegelisahan, dan hidup menjadi tidak tenang, bahkan tanpa sadar melupakan Allah SWT. Keinginan yang belum atau tidak tercapai akan menekan batin kita, ujungnya stres berat, jalan pintas lalu menjadi pilihan. Mencuri, menipu, merampok, membunuh, korupsi, dan lain sebagainya.

Orang-orang yang terus melayani nafsunya, meskipun hidup dalam gelimang kemewahan dan kekayaan, sejatinya mereka tidak selalu merasakan bahagia. Mereka yang masih tetap merasa kekurangan adalah orang-orang yang kaya dalam kemiskinan, karena tidak pernah merasa cukup dan puas dengan apa yang mereka miliki.

Maka, berlindunglah kepada Allah SWT dari semua itu, mari sapa hati kita, batasilah keinginan kita, bersyukurlah dengan apa yang kita miliki sekarang ini, niscaya kita akan menjadi orang yang bijak dalam menggunakan rezeki yang telah diberikan Allah SWT. Cobalah menerapkan hidup sederhana dan selalu merasa cukup (kanaah), jangan berlebih-lebihan, sebab Allah SWT tidak suka orang yang berlebih-lebihan.

Baca Juga  Polres Halsel Launching Kawasan Wajib Masker

Kekayaan bukanlah banyaknya harta, bukan kemewahan, atau menumpuknya uang. Tapi kekayaan itu terletak di dalam hati yang selalu dirawat dan dijaga. Seseorang yang berusaha ikhlas dan merasa cukup atas apa yang dimilikinya, maka sesungguhnya dialah orang yang kaya walaupun ia hidup dalam kesederhanaan dan keterbatasan.

Sesungguhnya kekayaan itu bukanlah terletak pada banyaknya keluasan dan kelebihan. Hakikat dari kekayaan sesungguhnya adalah kayanya hati (jiwa).” (HR. Bukhari dan Muslim)

Sekali lagi, kekayaan hati akan membatasi ambisi dan keinginan-keinginan yang membuat kita menderita, jauh dari cinta, dan bahkan menjauhkan kita dari Allah SWT. Memang betul adanya, bahwa keinginan adalah sumber penderitaan, seperti kata Iwan Fals.

Jadi, silakan pilih: Hidup bermewah-mewahan punya segalanya tapi sengsara, atau hidup sederhana, nggak punya apa-apa tapi banyak cinta. Begitu kata Slank. (*)