Kemiskinan dalam Kekayaan

oleh -73 views

Allah SWT ”menyindir” mereka sebagai “orang-orang yang tidak sadar” yaitu orang-orang yang menjadikan harta benda sebagai tolok ukur kekayaannya. Apakah mereka mengira bahwa harta dan anak-anak yang Kami berikan kepada mereka itu (berarti bahwa), Kami bersegera memberikan kebaikan-kebaikan kepada mereka? Tidak, sebenarnya mereka tidak sadar. (QS. Al-Mukminun: 55-56).

Mengapa kita begitu tamak dan tidak pernah merasa puas? Mengapa kita tidak pernah merasa cukup dan tidak pernah merasa bahagia dengan apa yang telah kita miliki?  Mari kita merenung sejenak dan tanyakan semuanya itu kepada hati kita.

Apakah kita sudah mengenalnya? Apakah kita pernah “berdialog” dengannya? Apakah kita sudah merawatnya seperti kita merawat harta benda duniawi kita?.

Baca Juga  Proyek Irigasi Mangkrak, Petani Desa Bangul Terancam Gagal Panen

Hati harus dipahami, karena hati adalah alat yang dapat kita gunakan untuk mengkonter nafsu keinginan kita. Dengan memahami hati, kita akan memiliki “rem” untuk membatasi keinginan, nafsu, ambisi yang terkadang membutakan mata kita.

Keinginan selalu terbawa dalam mimpi kita, membuat kita mencari bagaimana caranya mewujudkan keinginan itu dengan cara apa pun, dan tanpa kita sadari sebenarnya kita telah menjadi budak ambisi yang sampai kapan pun tak kan pernah usai.