Namun ada kekeliruan lain yang diam-diam sama berbahayanya: mempercayai bahwa seorang kawan lama akan tetap menjadi pribadi yang sama sepanjang hidupnya. Kita mengira waktu hanya menambah usia, padahal ia juga mengubah cara pandang. Kita berharap seseorang tetap memegang keyakinan yang sama seperti puluhan tahun lalu, seakan-akan pengalaman, bacaan, perjumpaan, dan kenyataan hidup tidak pernah menyentuh batinnya.
Padahal, waktu adalah guru yang paling sunyi. Ia bekerja tanpa suara, tetapi perlahan mengubah manusia dari dalam. Pengalaman memperluas cara seseorang memandang dunia, bahkan kadang membongkar keyakinan yang selama ini dianggap mapan. Hans-Georg Gadamer menyebutnya sebagai peleburan cakrawala pemahaman (fusion of horizons): setiap pengalaman baru bertemu dengan pengalaman lama, lalu melahirkan pengertian yang baru. Karena itu, berubah bukanlah penyimpangan dari kodrat manusia; justru itulah tanda bahwa ia masih belajar.
Dalam kehidupan, setiap orang pada akhirnya memiliki politiknya sendiri. Bukan semata politik kekuasaan yang diperebutkan di panggung negara, melainkan politik kehidupan: siasat mengelola kepentingan, menjaga martabat, memenuhi kebutuhan, membaca peluang, dan menentukan arah langkah. Politik dalam pengertian ini adalah cara manusia menempatkan dirinya di tengah perubahan zaman.









