Kenangan yang Membeku, Pikiran yang Berhenti

oleh -52 views

Oleh: Ady Amar, Kolumnis

Ada saat-saat ketika manusia berhenti berpikir, lalu mulai merasa. Pada titik itu, keputusan tidak lagi lahir dari pertimbangan, melainkan dari kedekatan, kebencian, kekaguman, atau luka. Emosionalitas mengambil alih ruang yang semestinya ditempati rasionalitas. Maka yang benar tidak lagi diukur dari kekuatan argumen, melainkan dari siapa yang mengucapkannya.

Di ruang publik maupun dalam kehidupan sehari-hari, gejala ini tampak semakin kentara. Kita lebih cepat membela orang yang kita sukai daripada menguji kebenaran ucapannya. Kita lebih mudah menolak pendapat seseorang hanya karena ia berada di pihak yang tidak kita senangi. Akibatnya, akal kehilangan fungsinya sebagai penimbang. Ia berubah menjadi pelayan bagi emosi yang telah lebih dahulu mengambil keputusan.

Baca Juga  Legenda Real Madrid McManaman Semprot Argentina: Main Kasar, Memalukan

Barangkali inilah yang dikhawatirkan Hannah Arendt—sejarawan dan filsuf Amerika. Dalam banyak refleksinya, ia menunjukkan bahwa bahaya terbesar bukan selalu lahir dari niat jahat, melainkan dari manusia yang berhenti berpikir. Ketika kemampuan berpikir kritis ditanggalkan, seseorang menjadi mudah tunduk pada prasangka, fanatisme, dan kesetiaan yang membutakan. Emosi yang tidak dituntun akal pada akhirnya bukan melahirkan keberanian, melainkan keberingasan.

No More Posts Available.

No more pages to load.