Porostimur.com, Tiakur – Kerbau dan Pulau Moa adalah dua hal yang saling melekat. Ia sudah menjadi ikon bagi salah satu pulau terdepan yang ada di Kabupaten Maluku Barat Daya ini. Selain itu, salah satu baju adat Pulau Moa mengabadikan bentuk tanduk kerbau pada ikat kepala yang dililit sedemikian rupa dan kerap digunakan oleh laki-laki berkedudukan tinggi dalam upacara penting.
Bahkan, Gunung Kerbau sebagai puncak tertinggi di Pulau Moa pun mendapatkan namanya lantaran menjadi rumah tinggal bagi ratusan bahkan ribuan populasi kerbau moa. Selain itu kerbau ini juga menjadi salah satu komoditas ternak unggulan Pulau Moa.
Sudah sejak lama kerbau moa menjadi satwa endemik yang menghuni Pulau Moa. Mungkin terbersit di pikiran kalian, bagaimana mungkin kerbau bisa sampai di pulau terpencil yang dipisahkan dari daratan utama oleh lautan luas? Bisa jadi kerbau ini dibawa oleh orang luar pulau lalu dibudidayakan di pulau itu ratusan tahun silam.

Atau mungkin juga berasal dari daratan utama saat daratan masih menyatu di zaman glasial yang memungkinkan hewan-hewan untuk bebas bermigrasi. Kemudian saat suhu Bumi meningkat dan rata-rata permukaan laut global naik kerbau-kerbau ini terjebak di pulau terpencil itu sampai saat ini. Ini semua cuma imajinasi liar saya saja lho ya.









