Oleh: Didi Irawadi Syamsuddin, Lawyer, penulis dan politisi.
Kritik adalah cermin bagi kekuasaan. Memang, tidak semua cermin memantulkan wajah yang menyenangkan. Namun, memecahkan cermin tidak akan membuat wajah menjadi lebih baik.
Karena itu, ketika pihak-pihak yang mengkritik pemerintah—wartawan, akademisi, aktivis, maupun rakyat biasa—dengan mudah diberi cap “londo ireng”, publik pantas bertanya: apakah Presiden mulai alergi terhadap kritik?
Seorang Presiden bukan ketua kelompok pendukung yang hanya ingin mendengar tepuk tangan. Presiden adalah pemimpin seluruh rakyat, termasuk mereka yang berbeda pandangan, bersuara keras, bahkan menyampaikan kritik yang terasa menyakitkan.
Kritik setajam apa pun seharusnya dijawab dengan kebijaksanaan. Lebih utama lagi, dijawab dengan kerja nyata.
Sebab rakyat tidak hidup dari pidato. Rakyat tidak menjadi kenyang karena julukan. Harga beras tidak turun karena lawan politik diberi stigma. Pengangguran tidak berkurang karena wartawan dituduh memiliki agenda tertentu. Kemiskinan tidak hilang hanya dengan mencari kambing hitam.
Jika kritik terhadap program Makan Bergizi Gratis dianggap mengganggu, jawablah dengan transparansi, kualitas makanan, pengawasan anggaran, dan jaminan bahwa tidak ada anak yang menjadi korban salah kelola.









