Ketika Kuasa Menjadi Nafsu: Logika Kesintingan Trump

oleh -422 views

Oleh: Ady Amar, Kolumnis

Ketika Donald Trump berkata, “Mungkin kita ambil Pulau Kharg, mungkin tidak. Kita punya banyak pilihan,” dan bahkan menyelipkan ancaman untuk “menghancurkan sepenuhnya Pulau Kharg”, dunia tidak sekadar mendengar sebuah pernyataan. Dunia sedang dihadapkan pada sesuatu yang lebih sunyi, namun lebih menggetarkan: cara berpikir yang mulai kehilangan batas.

Tidak ada yang benar-benar meledak saat itu. Tidak ada dentuman.
Tetapi justru di situlah bahaya bersemayam—ketika ancaman tidak lagi perlu berteriak untuk terasa nyata.

Untuk memahami mengapa Pulau Kharg disebut, kita perlu sejenak menyingkir dari hiruk retorika.

Pulau kecil di Teluk Persia itu—yang berada di bawah kedaulatan Iran—bukan sekadar titik di peta. Ia adalah jalur napas bagi Iran, tempat di mana minyak, sebagai urat nadi ekonomi, mengalir keluar menuju dunia.

Baca Juga  Oranje Nuhu Evav Tantang Brasil Kei di Stadion Maren, Rogaz Sesumbar Menang Telak 9-0

Trump menyebutnya dalam konteks penguasaan bukanlah kebetulan. Ia adalah pilihan yang sadar, dingin, dan penuh perhitungan.

Dan di sanalah maknanya menjadi terang—bahwa yang dipertaruhkan bukan sekadar wilayah.

Namun yang tengah disentuh adalah denyut hidup sebuah bangsa.

Menguasainya berarti menekan, bahkan melumpuhkan. Dalam logika seperti ini, kedaulatan tidak lagi dipandang sebagai prinsip, melainkan sebagai hambatan yang bisa dinegosiasikan—atau disingkirkan.

No More Posts Available.

No more pages to load.