Socrates pernah berkata, sebagaimana dikutip oleh Asy Syahrastani dalam bukunya Al-Milal wa An-Nihal: “Ketika aku menemukan kehidupan (duniawi) kutemukan bahwa akhir kehidupan adalah kematian, namun ketika aku menemukan kematian, aku pun menemukan kehidupan abadi. Karena itu, kita harus prihatin dengan kehidupan (duniawi) dan bergembira dengan kematian. Kita hidup untuk mati dan mati untuk hidup.”
Demikian gagasan keabadian hidup manusia hadir bersama manusia sepanjang sejarah kemanusiaan.
“Kalau keyakinan orang-orang Mesir Kuno mengantar mereka untuk menciptakan teknik pengawetan jenazah dan pembangunan piramid, maka dalam pandangan pemikir-pemikir modern, keabadian manusia dibuktikan oleh karya-karya besar mereka,” ujar Quraish.
Abdul Karim Al-Khatib dalam bukunya Qadhiyat Al-Uluhiyah mengutip tulisan Goethe (1749-1833 M) yang menyatakan:
“Sesungguhnya usaha sungguh-sungguh yang lahir dari lubuk jiwa saya, itulah yang merupakan bukti yang amat jelas tentang keabadian. Jika saya telah mencurahkan seluruh hidup saya untuk berkarya, maka adalah merupakan hak saya atas alam ini untuk menganugerahi saya wujud baru, setelah kekuatan saya terkuras dan jasad ini tidak lagi memikul beban jiwa.”










