Ketimpangan

oleh -73 views

Nenek dan kakek kita membuat pamflet (hei, lihat bagaimana nasib mereka yang bikin pamflet online, seperti pamflet yang dibikin kakek kita saat revolusi?)

Mereka bikin karya seni — di jalan, di trotoar, di tiang-tiang listrik … bukankah karya-karya ini berusaha dihapus oleh dinas intel, polisi, dan tentara sama persis seperti dulu?

Agaknya ketimpangan tidak menjauh dari kita sejak tahun-tahun 1940an yang penuh kenangan itu. Saya tidak bicara soal ketimpangan ekonomi belaka. Juga ketimpangan politik.

Kita hanya menciptakan bayangan (imajinasi) bahwa kita sudah menciptakan struktur politik yang seimbang; bahwa ekonomi kita terbagi secara adil; bahwa sistem hukum kita berlaku untuk semua orang; bahwa para maling dan garong milik umum dihukum dan dibikin jera; bahwa semua rakyat mendapat perlindungan yang setara … dan lain sebagainya!

Itu semua hanya seolah-olah! Ketimpangan itu sangat jelas namun justru paling tidak tampak dalam semua perbincangan kita sebagai bangsa. Para elit kita secara diam-diam menyodorkan ilusi bahwa ketimpangan itu baik adanya. “Nanti setelah kami makmur, Anda juga akan ikut makmur,” demikian bisik mereka.

Baca Juga  Kebodohan Absolut

Ilusi kemakmuran seperti itu membuat kita tergila-gila pada investasi; pada unicorn; pada Revolusi 4.0 dan segala macam tetek bengek istilah-istilah ‘glowing’ yang membuai kita ke angkasa sementara jongkok di jamban.