Nenek dan kakek kita membuat pamflet (hei, lihat bagaimana nasib mereka yang bikin pamflet online, seperti pamflet yang dibikin kakek kita saat revolusi?)
Mereka bikin karya seni — di jalan, di trotoar, di tiang-tiang listrik … bukankah karya-karya ini berusaha dihapus oleh dinas intel, polisi, dan tentara sama persis seperti dulu?
Agaknya ketimpangan tidak menjauh dari kita sejak tahun-tahun 1940an yang penuh kenangan itu. Saya tidak bicara soal ketimpangan ekonomi belaka. Juga ketimpangan politik.
Kita hanya menciptakan bayangan (imajinasi) bahwa kita sudah menciptakan struktur politik yang seimbang; bahwa ekonomi kita terbagi secara adil; bahwa sistem hukum kita berlaku untuk semua orang; bahwa para maling dan garong milik umum dihukum dan dibikin jera; bahwa semua rakyat mendapat perlindungan yang setara … dan lain sebagainya!
Itu semua hanya seolah-olah! Ketimpangan itu sangat jelas namun justru paling tidak tampak dalam semua perbincangan kita sebagai bangsa. Para elit kita secara diam-diam menyodorkan ilusi bahwa ketimpangan itu baik adanya. “Nanti setelah kami makmur, Anda juga akan ikut makmur,” demikian bisik mereka.
Ilusi kemakmuran seperti itu membuat kita tergila-gila pada investasi; pada unicorn; pada Revolusi 4.0 dan segala macam tetek bengek istilah-istilah ‘glowing’ yang membuai kita ke angkasa sementara jongkok di jamban.




