Angka-angka pandemik ini, termasuk kematian anak-anak, memperlihatkan secara jelas ketimpangan itu. Di jalan-jalan pun itu terlihat secara gamblang — pasukan hijau dan oranye, pasukan yang hidup dari remah-remah dengan menjadi pengantar ini dan itu namun berkedudukan sebagai ‘mitra’ perusahan.
Kita menormalkan ketimpangan ini dengan segala macam ilusi. Dan, oh ya, para elit kita tidak hanya memelihara ketimpangan ini. Mereka membiakkannya.
Mereka menaruh anak menantunya di kursi kekuasaan. Saya tidak bicara satu dua orang. Lihat berapa menteri yang dulunya adalah anak-anak para elit? Berapa kepala partai yang mendapatkan kursi ketuanya sebagai ‘warisan bapak ibu’? Berapa kepala daerah yang mewariskan kekuasaanya kepada anak, mantu, bini (dan bahkan madu atau bini keduanya)?
Lihat bagaimana mereka menguasai ruang-ruang publik tidak saja di jalan-jalan raya tetapi juga online. Kalau Anda mengeluhkan baliho-baliho di jalan, itu belum seberapa. Lihat jugalah bagaimana baliho-baliho dan tanda-tanda kampanye ini hidup di dunia internet dan dikerjakan oleh gedibal-gedibal elit-elit ini.
Kita sudah merdeka. Dalam ilusi merdeka, tepatnya. (*)




