Di Izmir, dia berusaha bertemu dengan delegasi Yahudi yang datang dari Adrianapel, Shopia, Yunani dan Jerman. Utusan-utusan ini memberinya gelar sebagai “Malik Al-Muluk” (Raja Diraja).
Setelah itu Syabtay membagi dunia menjadi 38 bagian. Kemudian dia menentukan seorang raja pada setiap bagian itu. Sebab dia berkeyakinan, bahwa dirinya akan memimpin dunia secara keseluruhan dengan Palestina sebagai pusat. Hal ini bisa terbaca saat dia mengatakan, “Saya adalah keturunan Sulaiman bin Daud penguasa manusia, dan saya akan jadikan Al-Quds sebagai istana saya.”
Syabtay juga menghapuskan nama Sultan Muhammad IV dari khutbah-khutbah yang berada di tempat ibadah Yahudi dan menggantinya dengan nama dirinya. Dia menyebut dirinya dengan “Sultan Salathin” juga dengan sebutan “Sulaiman bin Daud” yang kemudian membuat pemerintahan Utsmani menaruh perhatian atas gerakan ini.
Syabtay ini menjadi sumber keresahan di kalangan pendeta-pendeta Yahudi. Mereka mengadukannya pada Sultan. Dalam pengaduannya mereka menegaskan, bahwa Syabtay berdiam untuk melakukan gerakan pemberontakan dalam rangka mendirikan pemerintahan Yahudi di Palestina.
Karena semakin meningkatnya gejolak yang ditimbulkan oleh Syabtay ini, maka Ahmad Koburolo, seorang menteri Utsmani yang dikenal sangat tegas, mengeluarkan perintah untuk menangkap Syabtay dan memasukkannya ke dalam penjara.









