Sebelum Nabi Muhammad SAW diutus, kaum Yahudi senantiasa berdoa agar Allah Taala segera menurunkan rasul penutup tatkala mereka berperang melawan kaum musyrik . Hanya saja, saat doa itu dikabulkan mereka mengingkarinya. Allah SWT berfirman:
وَلَمَّا جَآءَهُمۡ كِتٰبٌ مِّنۡ عِنۡدِ اللّٰهِ مُصَدِّقٌ لِّمَا مَعَهُمۡۙ وَكَانُوۡا مِنۡ قَبۡلُ يَسۡتَفۡتِحُوۡنَ عَلَى الَّذِيۡنَ كَفَرُوۡا ۖۚ فَلَمَّا جَآءَهُمۡ مَّا عَرَفُوۡا کَفَرُوۡا بِهٖ فَلَعۡنَةُ اللّٰهِ عَلَى الۡكٰفِرِيۡنَ
Wa lammaa jaaa’ahum Kitaabum min ‘indil laahi musaddiqul limaa ma’ahum wa kaanuu min qablu yastaftihuuna ‘alal laziina kafaruu falammaa jaaa’ahum maa ‘arafuu kafaruu bih; fala ‘natul laahi ‘alal kaafiriin
“Dan setelah sampai kepada mereka Kitab (Al-Qur’an) dari Allah yang membenarkan apa yang ada pada mereka sedangkan sebelumnya mereka memohon kemenangan atas orang-orang kafir, ternyata setelah sampai kepada mereka apa yang telah mereka ketahui itu, mereka mengingkarinya. Maka laknat Allah bagi orang-orang yang ingkar.” ( QS Al-Baqarah : 89)
Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan makna yang dimaksud ialah bahwa sebelum kedatangan Rasulullah SAW yang membawa Al-Qur’an , mereka selalu memohon kepada Allah akan kedatangannya untuk menghadapi musuh mereka dari kalangan kaum musyrik, bila mereka berperang melawan kaum musyrik.










