Kisah Selebgram Tiffany Mitchell, ‘Mahabenar Warganet’, dan Muslihat Instagram

oleh -94 views
Link Banner

Porostimur.com | Ambon: Bulan lalu, seorang selebgram asal Amerika Serikat, Tiffany Mitchell, mengunggah foto-foto dirinya tergeletak di tepi jalan. Menurut tulisan di unggahannya, ia mengalami kecelakaan motor. Sontak unggahan itu bertabur ungkapan simpati dari 211 ribu pengikutnya.

Namun, tak butuh waktu lama muncul komentar-komentar yang menggelitik. Komentar semacam itu makin meluap kala kecelakaan tersebut diberitakan salah satu media asing kekinian, Buzzfeed.

Tak sedikit yang menilai foto kecelakaan itu terlalu cantik. Dari situlah warganet ramai-ramai memperdebatkannya.

Ada lebih dari 1 helm di foto. Janggalnya lagi, tak terlihat ceceran darah sama sekali. pun mempertanyakan mengapa selebgram itu ikut mencantumkan akun seniman tatonya di foto kecelakaan tersebut. Yang paling membuat warganet ragu, mengapa ada botol minuman dengan merek terpampang nyata di unggahan tersebut?

Sontak warganet kompak menuding kecelakaan sebagai ‘settingan’ semata. Parahnya, ada warganet yang sampai mengancam membunuhnya.

Dilansir dari BBC, saat terjadi kecelakaan, ia sedang bersama sahabatnya, Lindsey Grace Whiddon. Lindseylah fotografer kecelakaan tersebut.

“Jika melihat foto-foto itu, aku paham mengapa banyak yang mengira itu ‘settingan’. Jika aku tak di sana langsung, mungkin aku juga sulit mempercayainya. Namun, aku berani jamin kalau foto-foto itu bukanlah ‘settingan’. Tiffany bahkan baru tahu foto itu beberapa jam setelah kejadian,” ungkap Lindsey.

Baca Juga  Pererat Silaturahmi, Wakajati Temui Wakapolda Maluku

Namun, komentar kebencian warganet memaksa Tiffany menghapus unggahan. Ia lantas mengunggah video pembelaan dirinya.

Selebgram yang tinggal di Nashville itu membantah kecelakaannya adalah ‘settingan’. BBC pun menerima foto-foto kejadian yang tak dipublikasikan. Foto menunjukkan Tiffany berada dalam ambulans dan ada seorang petugas polisi. Setelah dilakukan pengecekan data, foto-foto itu terbukti keabsahannya.

BBC

Dua helm dalam foto yang diunggahnya ternyata miliknya dan milik teman prianya yang juga tertangkap kamera. Sementara itu, botol minuman kemasan tersebut hanya diberikan kepadanya dan bisa merek apa saja. Artinya, tak ada unsur kesengajaan untuk memamerkan mereknya. Pihak ‘Smartwater’, merek minuman kemasan, juga sudah mengonfirmasi tak mensponsori Tiffany Mitchell.

“Aku bingung mengapa orang-orang menuding ini settingan atau cuma mencari-cari perhatian untuk mengiklankan merek. Aku selalu jujur 100 persen pada kolaborasiku dengan merek-merek tertentu. Jika ada produk yang kuunggah karena disuruh perusahaan, aku pasti bilang,” keluhnya.

Tiffany sendiri jadi takut pada ujaran kebencian warganet setelah Buzzfeed memberitakan kecelakaannya.

Baca Juga  Wabah Corona Tak Menghambat Ekspansi Aneka Tambang di Halmahera Timur

“Aku sangat sedih saat tahu begitu banyak warganet yang percaya begitu saja pada apa yang mereka baca. Mereka pun bahkan tak berpikir dulu akan menyakiti orang yang benar-benar mengalami kecelakaan motor sampai luka-luka dan trauma,” sambungnya.

Terlepas dari kebenaran sesungguhnya kecelakaan itu, reaksi warganet menunjukkan orang-orang kini makin ‘nyinyir’ pada apa yang mereka lihat di . Di samping itu, tak sedikit selebgram yang gagal mengkamuflase produk sponsor dengan mengatakan itu produk pilihannya sendiri.

Banyak juga selebgram yang suka pura-pura punya kolaborasi merek, padahal tidak. Pada bulan Desember lalu, media The Atlantic pernah mengulas konten sponsor palsu ini.

“Di dunia ‘influencer’, inilah yang disebut gengsi. Makin banyak sponsor yang didapat, makin tinggi pula gengsi yang dimiliki,” kata Brian Phanthao dari The Atlantic.

Tak hanya selebgram, kepalsuan media sosial turut dimanfaatkan penyelenggara acara. Inilah yang terjadi pada Fyre Festival, festival musik di Bahama, yang digembar-gemborkan seru dan ‘mable’ dengan akomodasi dan makanan papan atas. Namun, nyatanya akomodasinya hanya tenda biasa dan makanannya mengecewakan. Pihak penyelenggara acara pun dipenjara dengan tuduhan penipuan.

Baca Juga  Kades Capalulu Diduga Gunakan Uang DD untuk Beli Mobil Pribadi
BBC

“Penonton sudah berharap bayangan mereka jadi kenyataan. Namun, ternyata yang ada di lini masa adalah versi realitas yang dipercantik habis-habisan. Mereka tak mau melihat sisi kumuhnya, seperti cucian piring atau kumalnya kucing jalanan,” kata Sara Tasker, konsultan dan penulis Hashtag Authentic.

” terus mengakali algoritma untuk menambah jumlah pengikut mereka agar mudah ‘menjual diri’. Artinya, sepenuhnya adalah permainan popularitas.

“Dari sudut pandang ‘influencer’, Anda ingin mengunggah hal-hal yang ingin dilihat warganet. Pasalnya, semakin banyak promosinya, makin banyak pula orang yang melihatnya,” tambah Tasker.

Menurut Tasker, selebgram juga jauh lebih sulit meningkatkan gengsinya dibandingkan selebritas.

“Padahal, menurut saya, saat merekomendasikan produk, selebritas jauh lebih buruk karena nyata-nyata telah disponsori dan bisa menyesatkan warganet. Namun, warganet tak menuntut pertanggungjawaban mereka,” sambung Tasker.

Namun, kontroversi kecelakaan Tiffany Mitchell ternyata tak membahayakan karier ‘influencernya’. Bahkan, pengikutnya di bertambah banyak.

“Saya akan terus mengunggah foto seperti yang selalu saya lakukan dan bertanggung jawab atas setiap tulisan dan foto yang saya unggah,” janjinya. (red/pojoksatu)