Bagi saya, kalau kita tidak marah terhadap apa yang terjadi di negeri kita saat ini, artinya ada masalah serius yang terjadi pada psikologi kita. Hanya orang yang hilang akal dan buta hatinya yang tak berang saat menyaksikan “rumahnya sendiri” dihancurkan oleh mereka yang tak memiliki nurani.
Indonesia tak hanya diberkahi dengan kekayaan alamnya yang begitu berlimpah, tetapi juga memiliki kekayaan sejati dengan kepribadian generasinya yang berani bersuara jika melihat ketimpangan, ketidakadilan, dan kemungkaran terjadi di depan matanya.
Itu jelas koheren misalnya dengan seruan Nabi Muhammad Saw: “Barangsiapa dari kalian melihat kemungkaran, ubahlah dengan tangannya. Jika tidak bisa, ubahlah dengan lisannya. Jika tidak bisa, ingkarilah dengan hatinya, dan itu merupakan selemah-lemahnya iman.” (HR. Muslim)
Motif Memecah Belah?
Marah kepada pemerintah karena alasan kebijakan-kebijakan tak sesuai dengan nurani rakyat adalah bukan motif memecah belah bangsa. Emosi itu hadir dengan natural dalam setiap diri anak bangsa yang pikiran dan hatinya masih peduli terhadap nasib negeri yang dicintainya ini.
Pemerintah tidak perlu khawatir bahwa kerja-kerjanya yang diklaim telah dilakukan itu tak mendapatkan apresiasi dari masyarakat. Sebab kerja itu adalah kewajiban yang memang harusnya dilakukan. Adalah aneh jika suatu kewajiban harus mendapatkan apresiasi, bukan?









