Dinamikan perspektif pemilu dan kemauan konstituen terhadap capres dan cawapres yang diusung itulah yang akan menjadi persoalan diinternal partai.
Partai politik yang bertentangan dengan aspirasi konstituennya tentu berkemungkinan ditinggalkan, sehingga ini yang akan menjadi kekhawatiran para pemimpin partai. PAN dan PPP akan menghadapi dilema ini.
Ada adagium di dalam partai politik yaitu menang atau ikut menang. Adagium itulah yang akan memaksa KIB untuk memilih jalan tengah kombinasi calon dari luar istana dan calon yang didukung istana.
Nah kalau berangkat dari pemahaman adagium di atas, akan sangat mungkin PPP dan PAN tidak akan mutlak mengikuti kemauan istana, sehingga yang terjadi adalah jalan tengah.
PPP dan PAN serta Golkar bisa jadi menjadi kuda troya yang membuyarkan harapan oligarki dan istana. KIB tentu akan realistis melihat kemungkinan yang bisa mendongkrak suaranya, tentu ukurannya calon mana yang popularitas dan elektabilitasnya tinggi, karena KIB juga berharap bisa memenangkan kontestasi pilpres dan pemilu untuk mengirimkan kader kader terbaiknya ke Parlemen.
Kalau merujuk pada hasil survei, maka calon yang berpotensi mendongkrak suara partai di parlemen adalah Anies Baswedan. Ganjar dan Prabowo adalah bagian dari partai. Sehingga Anies menjadi calon satu satunya di luar istana yang berpotensi mendongkrak suara partai.









