Porostimur.com, Teheran – Ketegangan di Selat Hormuz biasanya identik dengan manuver militer dan pernyataan keras antarnegara. Namun kali ini, respons dari Iran justru tampil tak biasa—ringan, sarkastik, dan penuh satire di media sosial.
Di tengah tekanan dari Amerika Serikat yang disebut memberi tenggat waktu pembukaan blokade, sebuah akun diplomatik Iran di Harare memilih menjawab dengan candaan.
“Kuncinya belum ketemu, masih banyak pot bunga di sini,” tulis akun tersebut, seolah mereduksi isu geopolitik menjadi urusan domestik yang remeh. Namun di situlah letak pesannya: meredam tekanan dengan humor, sekaligus menyindir narasi besar lawan.
Diplomasi yang Berpindah ke Lini Masa

Fenomena ini menandai pergeseran menarik dalam praktik diplomasi global. Jika dulu pernyataan resmi hanya keluar dari ruang konferensi, kini “perang narasi” berlangsung di platform seperti X.
Pesan solidaritas dari berbagai perwakilan Iran di dunia pun mengalir. Dari Tunisia hingga Afrika Selatan, narasi yang dibangun bukan sekadar politik, tetapi juga emosional—mengangkat semangat perjuangan global melawan dominasi.
Di Afrika Selatan, misalnya, semangat “anak-anak Nelson Mandela” diangkat sebagai simbol perlawanan universal.
Persinggahan Narasi di Indonesia
Narasi itu juga sampai ke Indonesia. Alih-alih menyajikan data atau argumen formal, Kedutaan Iran di Jakarta justru menampilkan potret keseharian: sebuah truk logistik di jalanan dengan gambar Ali Khamenei di bagian belakangnya.









